Inilah Nama Baru untuk Orangutan Albino dari Kalimantan - Kompas.com

Inilah Nama Baru untuk Orangutan Albino dari Kalimantan

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 17/05/2017, 09:08 WIB
Alba

KOMPAS.com -- Seekor orangutan albino yang diselamatkan dari Kalimantan pada bulan lalu akhirnya diberi nama Alba. Nama tersebut, menurut The Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), memiliki arti putih dalam bahasa Latin dan fajar dalam bahasa Spanyol.

Dilansir dari ABC 16 Mei 2017, Alba adalah orangutan albino pertama yang ditemukan oleh BOSF dalam 25 tahun karier mereka.

Polisi lokal Kalimantan Tengah mendengar mengenai seekor orangutan albino betina yang ditangkap dan dimasukkan ke dalam kandang oleh para penduduk desa dan meminta kelompok konservasi tersebut menyelamatkan Alba.

(Baca juga: Kisah Orangutan "Pony" Bangkit Mendapatkan Kebebasan)

Ketika ditemukan, kondisi Alba sangat mengenaskan. Dia dehidrasi, lemah, dan menderita karena infeksi parasit.

Untungnya, setelah beberapa hari dalam perlindungan dan perawatan BOSF, nafsu makan Alba kembali dan berat badannya naik beberapa kilogram.

Selain menyelamatkan dan merawat, yayasan ini juga mengajarkan primata di bawah perlindungan mereka untuk mencari makan dan melindungi diri mereka sendiri agar dapat dikembalikan ke hutan.

Kalau biasanya orangutan butuh waktu delapan tahun untuk belajar independen, Alba menunjukkan tanda-tanda kesiapan yang luar biasa. Juru bicara BOSF, Nico Hermanu, mengatakan, dia menunjukkan perilaku yang liar. (Jadi) kita merasa bahwa dia bisa kembali ke alam.

Walaupun demikian, BOSF tidak akan langsung melepasliarkan Alba. CEO Jamartin Sihite mengatakan, kita tidak bisa langsung meletakkan Alba di hutan atau di tempat perlindungan hewan tanpa memeriksa semua kemungkinan secara menyeluruh.

(Baca juga: Masih Banyak Orangutan Menggelandang)

Menurut International Union for Conservation of Nature, orangutan Borneo terancam punah. Jumlah mereka telah turun hingga sepertiga sejak tahun 70-an dan diprediksi hanya akan tersisa sebanyak 47.000 ekor pada tahun 2025.

Setiap tahunnya, sebanyak 2000 hingga 3000 ekor terbunuh karena diburu untuk dimakan atau terseret konflik dengan pekerja perkebunan. Perusakan habitat untuk membuka lahan perkebunan juga turut menjadi penyebab merosotnya jumlah orangutan Borneo di Indonesia.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar