Dua Anggrek Berbibir Cantik Ditemukan di Hutan Aceh, Inilah Wajahnya - Kompas.com

Dua Anggrek Berbibir Cantik Ditemukan di Hutan Aceh, Inilah Wajahnya

Yunanto Wiji Utomo
Kompas.com - 12/04/2017, 19:02 WIB
Destario Metusala Paphiopedilum bungebelangi

KOMPAS.com - Dua anggrek cantik ditemukan di Aceh. Keduanya hidup di hutan belantara ekstrem di pegunungan berketinggian antara 1.300 - 1.600 meter di atas permukaan laut.

Anggrek itu punya karakter unik. Bila bibir manusia berbentuk menyerupai hati, maka bibir bunga ini berbentuk kantung.

Warnanya bibirnya pun menarik. Salah satu jenis yang ditemukan, Paphiopedilum bungebelangi, memiliki bibir berwarna merah marun.

Baca: Anggrek Baru dari Kalimantan, Punya Cula!

 

Sementara itu, bagian benang sari yang steril dan berupa lembaran atau staminodium-nya, berbentuk elips hingga menyerupai lingkaran dengan torehan cukup dalam di ujungnya.

Karena kecantikan itulah, maka Destario Metusala sebagai peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menemukannya, menamainya bungabelangi. Dalam bahasa Gayo, bungabelangi berarti bunga yang cantik.

Destario Metusala Paphiopedilum lunatum
Jenis lain yang ditemukan adalah Paphiopedilum lunatum. Anggrek jenis ini punya bibir bunga yang berwarna coklat kehijauan.

Kekhasan bunga tersebut adalah staminodium yang berbentuk bulan sabit. Karena kekhasan itu, maka spesies itu mendapatkan nama lunatus, berarti bulan sabit.

Taksonom anggrek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menemukan, Destario Metusala, mengungkapkan, anggrek itu termasuk dalam genus Paphiopedilum, punya nilai konservasi tinggi.

Baca: Katak Baru dari Sulawesi Mengejutkan Dunia karena Bisa Melahirkan

 

Anggrek baru ini masuk dalam regulasi Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), tidak boleh diperdagangkan.

Karenanya, Destario berpesan, "Sangat disarankan supaya para hobiis dan kolektor anggrek agar bijak sebelum berniat untuk memilikinya."

Pada dasarnya, anggrek itu memang tidak cocok dibudidayakan. Keduanya sulit beradaptasi di dataran rendah tempat hidup manusia.

"Kedua, karenakan genus Paphiopedilum pada umumnya memiliki laju pertumbuhan yang lambat serta jumlah populasi di alam yang relatif terbatas," ungkap Destario kepada Kompas.com, Rabu (12/4/2017).

Untuk menemukan anggrek ini, Destario bekerjasama dengan Rita Subowo, Frankie Handoyo, Ramadhani Prasetya, Irawati, dan Andi Widjaja dari Perhimpunan Anggrek Indonesia (LIPI).


PenulisYunanto Wiji Utomo
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM