Kamis, 30 Maret 2017

Sains

Terbang Perdana Pesawat N219 Tertunda

Senin, 23 Januari 2017 | 16:43 WIB
Reska K. Nistanto/KOMPAS.com Pesawat turboprop N219 saat di-roll-out di hangar PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/12/2015).

KOMPAS.com - Rencana penerbangan perdana purwarupa pertama pesawat N219 pada akhir 2016 meleset. Jika semua masalah teknis dan pemeriksaan dokumen pesawat tuntas, pesawat yang murni dibuat perekayasa Indonesia itu diharapkan bisa mengudara pada Maret mendatang.

Terbang perdana pesawat baru adalah bagian dari rekayasa pesawat. Dalam proses itu, sejumlah parameter pesawat diuji. Untuk bisa mengudara, purwarupa pesawat harus memenuhi semua syarat kelayakan terbang. Berbagai dokumen diperiksa dan sejumlah tes harus dijalani hingga pesawat dinyatakan laik terbang.

"Insya Allah, semua bisa selesai dalam dua bulan ke depan," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Andi Alisjahbana saat dihubungi melalui surat elektronik, dari Jakarta, Sabtu (21/1/2017).

N219 adalah pesawat generasi kedua yang dibuat perekayasa Indonesia setelah N250. Pesawat berkapasitas 19 penumpang itu didesain sebagai pesawat perintis, penghubung daerah terpencil dan pulau-pulau kecil yang bisa mendarat di landasan tanah, berumput, atau berkerikil, dengan panjang landasan 600 meter.

Selain itu, pesawat dirancang multifungsi untuk angkutan penumpang, kargo, evakuasi medis, surveilans, dan patroli. Pesawat buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan PTDI itu ialah pesawat terbaru di kelasnya dan diklaim punya banyak keunggulan, termasuk kecanggihan teknologi yang digunakan.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin berharap terbang perdana N219 dilakukan kuartal pertama 2017 dan semua proses sertifikasi bisa selesai tahun ini. Jadi, produksi pesawat itu bisa dimulai pada 2018.

"Semakin mundur penyelesaian sertifikasi dan terbang perdananya, produksi pesawat pun akan mundur sehingga kian besar peluang pasar pesawat berpenumpang 19 orang direbut pesaing," ujarnya.

Kini, pesawat sejenis di pasaran yang menjadi pesaing N219 ialah Yunshuji-12 (Y12E) buatan Harbin Aircraft Manufacturing Corporation (HAMC) Tiongkok dan de Havilland Canada-6 (DHC6) produksi Viking Air Kanada.

Meski demikian, Andi yakin keterlambatan itu tak berlangsung lama dan dampaknya bisa diminimalkan. Apalagi, N219 memiliki banyak keunggulan dibandingkan pesawat sejenis, dari sisi teknologi, kapasitas kabin, dan kemampuan terbang pesawat.

Sertifikasi

Purwarupa pertama N219 dikenalkan ke publik pada Desember 2015. Selanjutnya, pesawat menjalani sertifikasi yang dilakukan Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan.

Sertifikasi dilakukan dengan mengacu pada aturan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Karena N219 ialah pesawat berkapasitas kurang dari 20 penumpang, sertifikasinya berpedoman pada Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 23 (CASR Part 23).

Semula, lanjut Andi, semua proses pengerjaan purwarupa pertama N219 direncanakan selesai pertengahan 2016 sehingga akhir 2016 dapat mengudara. Namun, dalam pembangunan purwarupa itu muncul berbagai masalah teknis.

N219 adalah pesawat baru. Sebelumnya, pesawat itu hanya berbentuk dokumen rancangan di atas kertas. Persoalan biasanya muncul saat produksi komponen atau integrasi berbagai komponen itu dalam purwarupa pesawat. Setelah masalah diatasi, dokumen pendukungnya harus diperbaiki. "Ini hal biasa dalam pembangunan purwarupa pesawat baru," ujarnya.

Di sisi lain, PTDI harus menuntaskan pesanan berbagai jenis pesawat dan helikopter. Akibatnya, kapasitas produksi di bagian yang membuat komponen rinci pesawat jadi berlebih.

Sertifikasi dilakukan pada dua aspek, yakni aspek desain dan analisis serta aspek pembangunan purwarupa pesawat. Sertifikasi aspek desain dan analisis dengan memeriksa dokumen yang dibuat perekayasa PTDI. Penyelesaian satu dokumen butuh beberapa minggu. "Lebih dari 300 dokumen dan lebih dari 3.000 gambar teknis dan komponen sepadan harus ditinjau. Jadi, tugas ini amat besar," ujarnya.

Sementara sertifikasi untuk aspek pembangunan purwarupa pertama pesawat dilakukan DKUPPU dengan memeriksa komponen-komponen yang akan diintegrasikan dalam purwarupa. Itu untuk memastikan komponen yang dibuat sesuai desain dari perekayasa.

Setelah purwarupa pertama N219 terbang, sejumlah tahap harus dilalui, antara lain purwarupa pertama dan kedua N219 harus menjalani ratusan jam terbang. "Uji terbang itu diperlukan untuk memberi bukti keselamatan penumpang sesuai regulasi CASR part 23," katanya.

Pangsa pasar

Kehadiran N219 dibutuhkan daerah terpencil, kepulauan, dan terluar di Indonesia yang selama ini bergantung pada penerbangan perintis. Itu diharapkan mendorong perekonomian dan menjaga keutuhan negara.

Pada 2014, Indonesia yang punya 170 rute penerbangan perintis butuh 40 pesawat sekelas N219. Pada 2015, rute penerbangan perintis bertambah menjadi 217 rute sehingga kebutuhan pesawat kecil sekelas N219 naik.

Pangsa pasar Asia Pasifik pun menjanjikan. Diperkirakan hingga tahun 2022 perlu 118 pesawat sekelas N219 versi sipil, termasuk untuk Indonesia.

Adapun pesawat perintis yang beroperasi berteknologi lama dan usianya tua sehingga perlu diganti. Jadi, kebutuhan pesawat sekelas N219 kian besar. (MZW)

Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber: Harian Kompas,
TAG: