Kamis, 17 April 2014

News / Sains

Tahun Ini, Mungkin Bakal Ada Fenomena Badai Meteor

Kamis, 2 Januari 2014 | 18:42 WIB
Huffington Post Hujan meteor Geminid

KOMPAS.com — Tahun 2014, kemungkinan akan ada fenomena badai meteor. Badai meteor adalah fenomena serupa hujan meteor. Namun, jumlah meteor yang bisa disaksikan jauh lebih banyak.

Situs Seasky.org menginformasikan, fenomena badai meteor itu kemungkinan akan terjadi pada 24 Mei 2014 nanti. Bumi melewati wilayah debris komet kecil bernama 209P/LINEAR.

Adanya kemungkinan terjadinya badai meteor terkait dengan karakteristik komet dan orbitnya serta orbit Bumi.

209P/LINEAR merupakan komet periodik yang mengelilingi Matahari setiap 5,04 tahun. Pada 6 Mei 2014, komet ini akan mencapai titik terdekatnya dengan Matahari atau perihelion.

Kala mendekati Matahari, material debu komet akan berhamburan, membentuk ekor gas. Ekor debu memanjang di belakang inti komet. Komet sendiri akan meninggalkan debris.

Bumi sendiri terus berevolusi mengelilingi Matahari. Pada 24 Mei 2014, Bumi akan melewati wilayah di mana debris 209P/LINEAR terdapat.

Ketika melewati wilayah itulah, atmosfer Bumi akan membakar material debu yang ditinggalkan oleh komet, menghasilkan meteor.

Interaksi Bumi dengan debris komet atau asteroid biasanya akan menghasilkan 100 meteor per jam atau kurang sehingga fenomenanya disebut hujan meteor.

Namun, para astronom sebelumnya memperkirakan bahwa interaksi antara debris 209P/LINEAR dan atmosfer Bumi akan mampu menghasilkan 1.000 meteor per jam sehingga disebut badai meteor.

Peluang badai meteor

Kemungkinan adanya badai meteor akibat 209P/LINEAR diungkapkan oleh dua pakar meteor, yaitu Esko Lyytinen dari Finlandia dan Peter Jenniskens dari NASA.

Keduanya adalah dua pakar pertama yang menyatakan bahwa Bumi akan melewati wilayah debris komet itu pada Mei 2014.

Pakar meteor lain, Jeremie Vaubaillon dari Institut de Mecanique Celeste et de Calcul des Ephemerides, mengonfirmasi pertanyaan itu tahun 2012 lalu.

"Sejauh ini, berdasarkan observasi, kami memperkirakan akan ada 100-400 komet per jam, di mana itu merupakan hujan meteor yang besar," kata Vaubaillon.

"Tetapi, hujan meteor ini bisa dikatakan istimewa. Dari orbit komet ini, semua debris yang ditinggalkan antara 1.803-1.924 akan ada di jalur revolusi Bumi pada Mei 2014," imbuhnya.

"Sebagai konsekuensinya, hujan meteor ini kemungkinan akan menjadi badai meteor," jelas Vaubaillon seperti dikutip Space.com, 20 Oktober 2012 lalu.

Namun, riset terbaru yang dipublikasikan di Monthly Notices of Royal Astronomy Society, 26 November 2013 lalu, menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya badai meteor kecil.

Quanzhi Ye dari University of Western Ontario, Kanada, melakukan analisis optik pada komet itu selama penampakannya pada tahun 2009.

"Kami menemukan bahwa tidak banyak menghasilkan debu," tulis Ye dalam abstrak publikasi di jurnal itu.

"Karakteristik ini menunjukkan bahwa komet saat ini mungkin sedang ada dalam transisi antara komet umumnya menjadi komet dorman," imbuhnya.

"Karena komet memiliki produksi debu rendah, kami menyimpulkan bahwa badai meteor (jumlah meteor lebih atau sama dengan 1.000) kemungkinkan besar tak terjadi," jelasnya.

Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo mengatakan bahwa terjadinya badai meteor umumnya dipengaruhi oleh panjang ekor debu. Makin panjang ekor debu, makin besar peluang terjadinya badai meteor.

Namun, ia juga mengungkapkan bahwa ada faktor lain, yakni produksi debu oleh komet itu sendiri. Bila produksi debu rendah, peluang terjadi badai meteor juga rendah.

"Seperti komet Lovejoy kemarin. Kometnya ekornya panjang, tetapi produksi debunya diindikasikan lebih rendah dibanding rata-rata komet," katanya kepada Kompas.com, Kamis (2/1/2014)

Berdasarkan riset Ye, 209P/LINEAR mungkin akan sama dengan Lovejoy. Ekornya bisa jadi panjang, tetapi debunya sedikit.

Walau badai meteor kemungkinan takkan terjadi, fenomena meteor di langit akan tetap ada dan layak dilihat.

Partikel yang akan terbakar oleh atmosfer Bumi berukuran besar. Dengan demikian, meteor yang terbentuk mungkin terang walaupun jumlahnya sedikit.

Prediksi sejauh ini menunjukkan bahwa lokasi terbaik untuk melihat fenomena ini adalah di belahan utara Bumi.

209P/LINEAR adalah komet yang ditemukan pada tahun 2004. Nama komet diambil dari nama proyek penemuannya, Lincoln Near-Earth Asteroid Research (LINEAR).

Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo