Minggu, 26 Oktober 2014

News / Sains

Teori Kontroversial, Manusia Berevolusi dari Kera Akuatik

Rabu, 1 Mei 2013 | 19:16 WIB

KOMPAS.com — Teori kontroversial tentang evolusi manusia mendapat dukungan. Dalam teori yang digagas oleh seorang biolog Inggris bernama Sir Alister Hardy itu dinyatakan bahwa manusia berevolusi dari kera akuatik yang banyak menghabiskan hidupnya di air.

Salah satu pendukung teori yang pertama kali dicetuskan 50 tahun lalu ini adalah ilmuwan bernama David Attenborough. Para pendukung teori tersebut akan mengadakan konferensi di Inggris minggu depan.

Proses evolusi manusia, menurut teori tersebut, bermula ketika kera akuatik bermigrasi ke daratan. Ketika bermigrasi, kera akuatik itu kehilangan bulu-bulu, mulai berdiri tegak untuk menjaga kepala tetap di atas air, serta mulai mengembangkan volume otak yang besar.

Ada beberapa bukti yang mendukung teori ini. Misalnya, nenek moyang manusia selama jutaan tahun hidup di dekat wilayah perairan. Selain itu, manusia memiliki rongga sinus yang besar. Ciri itu sesuai dengan yang dibutuhkan di air, mendukung gaya apung ketika di air.

Ciri lain adalah lapisan lemak yang dimiliki manusia. Ini membedakan manusia dengan kera besar lain. Lapisan lemak sendiri dikembangkan oleh hewan air untuk menjaga suhu tetap hangat di dalam air.

Beberapa ilmuwan setuju dengan teori tersebut. Namun, beberapa yang lain menanggapi skeptis. Chris Stringer dari Natural History Museum di London mengatakan, penjelasan soal evolusi dari kera akuatik itu masuk akal, tetapi rentang waktunya tak sesuai.

Stringer, seperti dikutip Daily Mail, Senin (29/4/2013), mengungkapkan, "Jika memang mereka asal usul kita, akan butuh waktu jutaan tahun di ekosistem air dan tidak ada bukti untuk hal ini. Ini belum mempertimbangkan faktor seperti adanya buaya yang membuat ekosistem sangat berbahaya."

Meski demikian, pendukung teori evolusi dari kera akuatik ini tetap kukuh pada pendapatnya. Mereka mengajukan bukti biokimiawi, di antaranya soal Docosahexaenoic acid (DHA), asam lemak omega 3 yang ditemukan pada makanan laut. Senyawa itu memicu pertumbuhan otak pada mamalia.

Michael Crawford dari Imperial College London mengungkapkan bahwa tanpa DHA, manusia takkan mengalami perkembangan otak yang signifikan. Hal itu, menurut pendukung teori tersebut, adalah bukti bahwa manusia berevolusi dari primata air.


Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : yunan
Sumber: