Kamis, 23 Oktober 2014

News / Regional

Melongok Industri Perhiasan Emas Tertua di Magelang

Minggu, 12 Juni 2011 | 14:04 WIB

MAGELANG, KOMPAS.com — Bagi para pemilik toko emas, nama Abdul Basar (73) tidak asing lagi. Dari tangannya, ribuan bentuk model perhiasan emas telah tercipta.

Warga Dusun Seneng RT 4 RW 1, Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ini mulai merintis kerajinan logam sejak 1950-an, dan merupakan perajin emas tertua di Kota dan Kabupaten Magelang.

"Harga emas saat itu masih Rp 500 atau Rp 600 tiap gram," kenang Basar, Minggu (12/6/2011), sembari mengerjakan sejumlah perhiasan yang dipesan pemilik toko emas di kawasan Ketandan, Yogyakarta.

Pesanan yang datang kini memang lebih banyak dari Yogyakarta. Di Magelang, Basar dan pekerjanya hanya menerima pesanan dari sebuah toko emas. "Hanya sedikit. Antara 50 gram sampai 1 ons," kata Joko Yuwono (55), salah satu perajin.

Joko sudah bekerja di tempat ini sejak tahun 1970-an. Pada tahun 1990-an karya Joko yang berupa gesper emas berbentuk kepala harimau bertatahkan 40 biji berlian berhasil menduduki peringkat 10 besar dalam kompetisi perhiasan emas di Jakarta.

Ia pun menerima penghargaan dari alm Ibu Tien Suharto. Minimnya pesanan emas saat ini, menurut Joko, terutama diakibatkan harga emas yang sedang melonjak. Kondisi seperti ini menguntungkan para pemilik akhir atau pengguna emas.

Namun, bagi pemain industri, tingginya harga emas tak selalu baik karena daya beli jelas turun. "Sekarang sedang mencapai rekornya. Konsumen lebih banyak jual daripada membeli," lanjut Joko.

Disebutkan, saat ini harga emas mencapai kisaran Rp 385.000 per gram. Angka itu melampaui harga emas pada saat Lebaran lalu, yang "hanya" Rp 350.000 setiap gram.

Tukang-tukang emas yang tak bisa mengembangkan kreativitasnya dalam mendesain perhiasan bisa dipastikan tidak akan mendapat pesanan lagi sekarang. Bahkan, bukan tidak mungkin, mereka akan gulung tikar. "Ada perajin emas lain di Kecamatan Salaman. Tidak tahu masih ada apa tidak sekarang," ujar Joko.

Nasib serupa sebenarnya juga dialami banyak perajin rumahan lainnya. Di Dusun Seneng saja dulu perajin emas terhitung lebih dari enam orang. Sekarang, yang mampu bertahan hanya dua perajin. Kendati harganya fluktuatif, toh dari dulu sampai sekarang orang tetap suka menyimpan emas. "Harga logam mulia ini amat jarang turun, bahkan setiap tahun cenderung naik. Kalaupun harganya turun, itu hanya berlangsung sebentar, setelah itu bakal naik lagi," lanjutnya.

Industri perhiasan emas milik Basar sempat mengalami masa kejayaan pada kurun 1970 hingga 1980-an. Untuk menyelesaikan garapan, ia sampai harus mempekerjakan sekitar 15 orang. Kala itu pesanan anting-anting saja bisa mencapai 500 pasang tiap minggu. "Liontin juga sekitar 500 buah. Itu belum yang pesan cincin, kalung, dan gelang," ungkap Basar.

Untuk membuat perhiasan-perhiasan itu, dibutuhkan emas lantakan yang dijual di toko-toko logam mulia. Emas lantakan berbentuk batangan atau lempengan, dan umumnya berkadar 24 karat atau emas murni. Sepotong emas lantakan ada yang sampai berbobot 3 kilogram. Yang paling bagus bermerek "London", berkadar 99,99. "Tukang-tukang emas di sini menyebutnya emas ciok kim," ucap Joko.

Dulu Basar dan pekerjanya biasa mengerjakan sekarung emas lantakan untuk dibuat perhiasan. "Sekarang karena pesanan tak banyak, emas lantakan cukup beberapa potong saja," kata Basar.

Kendati mulai surut, sampai sekarang usaha rumahan ini masih tetap sanggup menerima perhiasan dengan bentuk apa pun. Pekerjaan lebih cepat selesai kalau pemesan membawa contoh model yang diinginkan. "Pernah ada gubernur di Sumatera yang pesan lencana emas seberat 50 gram. Dia pesan lewat orang Yogyakarta, tapi kami yang membuatkan," lanjut Joko.

Peralatan yang dimiliki industri rumahan ini memang terlihat cukup lengkap. Untuk jenis gunting saja, bentuk dan ukurannya ada beberapa macam. Begitu dengan alat gilingan serta alat-alat solder.

Keahlian Basar ataupun para pekerja dalam membuat perhiasan emas didapat tanpa melalui pendidikan atau pelatihan khusus. Tidak pernah ada pembinaan dari pemerintah. Bakat-bakat alam mereka terus diasah dari waktu ke waktu.

Bermodal kepercayaan dan kualitas garapan, berapa pun jumlahnya, order tetap mengalir. "Kalau hasil tidak sesuai keinginan konsumen, tentu kepercayaan bisa hilang," ujar Joko.


Editor : Glori K. Wadrianto