Jumat, 31 Oktober 2014

News / Sains

Kerusakan Alam, Banjir dan Longsor di Purbalingga

Rabu, 13 Januari 2010 | 09:44 WIB

PURBALINGGA, KOMPAS.com — Hujan deras disertai angin kencang dalam seminggu terakhir di wilayah Purbalingga mulai memicu terjadinya berbagai bencana, mulai dari angin ribut, longsor, hingga banjir bandang.

Meskipun belum menimbulkan korban jiwa, rentetan kejadian itu telah merusakan puluhan rumah dan kerugian material ratusan juta rupiah. Selain itu, bencana tersebut mengingatkan bahwa potensi timbulnya bencana di wilayah ini kian mengkhawatirkan.

Kasus banjir bandang dan longsor yang terjadi di Desa Gunung Wuled, Kecamatan Rembang, Purbalingga, adalah contohnya. Itulah kasus banjir bandang kali pertama di wilayah ini.

Banjir bandang yang mengakibatkan dua rumah hanyut dan dua lainnya rusak berat tersebut belakangan diketahui bukan semata karena hujan deras, melainkan juga karena alih fungsi lahan hutan di hulu Kali Pete oleh warga sekitar menjadi ladang kapulaga dan albasia.

"Hitungan kami ada sekitar 4-5 hektar lahan Perhutani di sekitar Kali Pete yang telah ditanami albasia dan kapulaga. Akibatnya, air hujan tak terserap ke dalam tanah dan mengikis tanah, kemudian meluncur menjadi material banjir di Kali Pete," kata Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Purbalingga Suprapto.

Kapulaga saat ini menjadi tanaman primadona baru bagi petani di Kecamatan Rembang. Tanaman ini menggantikan singkong yang tak mempunyai nilai ekonomis tinggi. Dengan hasil jual panen yang berlipat-lipat, petani pun berlomba-lomba menanami lahannya dengan kapulaga. Lahan hutan Perhutani yang berada di pinggir lahan rakyat pun tak luput dari penanaman tanaman bahan untuk jamu tersebut.

"Memang ada kesepakatan bersama antara masyarakat dan Perhutani mengenai masalah ini. Ke depan, hal ini harus dibicarakan kembali agar ditemukan solusi terbaik," kata Suprapto.

Banjir bandang di Desa Gunung Wuled dapat menjadi cerminan kemungkinan terjadinya hal serupa di wilayah lain di Purbalingga, khususnya di bagian utara. Pasalnya, alih fungsi lahan hutan terjadi di banyak tempat. Di lereng timur Gunung Slamet, misalnya, alih fungsi lahan menjadi ladang sayuran terjadi besar-besaran. Padahal, di kawasan itu terdapat puluhan sumber air.

Ketua Mahardika Centre Purbalingga Heru Hariyanto mengungkapkan, ada 1.126 hektar lahan hutan lindung dan hutan produksi di lereng Gunung Slamet yang telah beralih fungsi menjadi ladang sayuran. Diperkirakan, 40 persen dari 75 anak sungai yang bersumber dari gunung ini kini berangsur mati.

Pada musim hujan, situasi dapat terjadi sebaliknya. Hujan deras yang tak tertampung dapat menyebabkan terjadinya banjir bandang seperti di Gunung Wuled.

Potensi bencana lainnya adalah penambangan pasir besar-besaran di sungai-sungai di Purbalingga. Penambangan tersebut menyebabkan rusaknya tebing, tanggul, dan bendungan. Tercatat ada empat bendungan yang rusak di wilayah ini. Akibatnya, bila banjir terjadi, potensi terjadinya luberan sungai mungkin tercipta.

Keterbatasan anggaran menjadi kendala untuk antisipasi bencana. Sampai saat ini belum ada kepastian dana untuk memperbaiki 32 titik bendungan, daerah aliran sungai, dan irigasi yang rusak. Padahal, titik-titik rawan tersebut mendesak untuk segera diperbaiki. Selain untuk pengendali banjir, 32 titik tersebut adalah infrastruktur vital untuk mengantisipasi kekeringan pada 2010.

Kepala Bidang Fisik dan Sarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Purbalingga Siswanto mengungkapkan, dibutuhkan anggaran sebesar Rp 39,5 miliar untuk perbaikan infrastruktur-infrastruktur pascabencana tersebut. Anggaran tersebut sampai tak tercakup dalam belanja langsung APBD Purbalingga 2010 yang ditetapkan sebesar Rp 3 miliar.

"Untuk dana bantuan pascabencana itu kami berharap dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kami sudah mengusulkan itu ke pemerintah pusat, dan belum tahu apakah bakal direalisasikan atau tidak mengingat saat ini banyak daerah yang terkena bencana yang juga memerlukan bantuan," kata Siswanto.


Editor : Glo