Penjelasan Psikologi di Balik Panic Buying Akibat Virus Corona

Kompas.com - 03/03/2020, 07:05 WIB
Pusat perbelanjaan Grand Lucky di kawasan SCBD, Jakarta Selatan dipenuhi warga yang ingin membeli kebutuhan pokok pasca informasi dua orang WNI positif terinfeksi virus corona.  Foto di lokasi Senin (1/3/2020) KOMPAS.COM/ RINDI NURIS VELAROSDELAPusat perbelanjaan Grand Lucky di kawasan SCBD, Jakarta Selatan dipenuhi warga yang ingin membeli kebutuhan pokok pasca informasi dua orang WNI positif terinfeksi virus corona. Foto di lokasi Senin (1/3/2020)

KOMPAS.com - Pada hari Senin kemarin (3/2/2020), pemerintah mengumumkan dua kasus positif virus corona pertama di Indonesia. Pengumuman ini membuat masyarakat panik dan memborong barang-barang di berbagai ritel-ritel Indonesia dalam sebuah fenomena yang disebut panic buying.

Di pusat perbelanjaan Grand Lucky di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, misalnya. Kompas.com melaporkan bahwa pada Senin sore, antrean panjang tampak mengular di depan kasir. Warga yang antre membawa troli berisi barang-barang kebutuhan pokok seperti mie instan, beras dan minyak.

Salah satu pengunjung Grand Lucky, Yani, mengaku memborong lebih banyak barang dari biasanya karena khawatir sejumlah fasilitas publik akan ditutup seperti di Wuhan, China.

Menanggapi kepanikan belanja ini, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Roy Mandey meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembelian dalam jumlah banyak akibat fobia atau panic buying.

Baca juga: Update Virus Corona 2 Maret: 89.212 Orang di 68 Negara Terinfeksi

Sebetulnya, panic buying akibat virus corona bukan terjadi kali ini saja. Berbagai negara yang terinfeksi virus corona dilaporkan mengalami panic buying. Ini tidak hanya mencakup China, Hong Kong, Korea Selatan dan Jepang saja, tetapi juga Italia, Jerman, Austria dan berbagai negara lainnya.

Fenomena ini pun menarik perhatian para ahli psikologi dunia untuk mencoba menjelaskannya.

Mengambil kembali kontrol

Penjelasan pertama yang diberikan oleh para ahli adalah panic buying dilakukan untuk mengambil kembali kontrol.

Terkait panic buying di Hongkong, psikolog klinis Dr Cindy Chan menjelaskan kepada South China Morning Post, Selasa (25/2/2020) bahwa ada banyak faktor dari Covid-19 yang membuat seseorang bisa merasa kehilangan kontrol.

Ini mulai dari terus meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi dan angka kematian, hingga ditutupnya fasilitas-fasilitas umum.

Untuk mendapatkan kembali kontrol, orang-orang pun melakukan panic buying agar merasa telah melakukan apa yang bisa mereka lakukan.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X