Kompas.com - 28/02/2020, 08:07 WIB
Ilustrasi tikus Francisco MartinsIlustrasi tikus

KOMPAS.com - Sekelompok peneliti dari Washington University School of Medicine in St. Louis berhasil menemukan cara memanfaatkan sel punca atau stem cell yang lebih efisien dan efektif untuk menyembuhkan penyakit diabetes pada tikus.

Untuk diketahui, diabetes merupakan penyakit di mana kadar gula darah dalam tubuh menjadi tidak terkontrol karena sel beta pada pankreas tidak memproduksi cukup hormon insulin yang berfungsi mengatur kadar gula darah.

Nah, sel punca digadang-gadang bisa menjadi solusi diabetes masa depan.

Caranya, sel punca diubah menjadi sel beta untuk memproduksi lebih banyak insulin.

Baca juga: Sel Punca dan Metabolit Buatan Lokal, Terapi Tak Perlu ke Luar Negeri

Sayangnya, pemanfaatan sel punca masih jauh dari sempurna. Ketika ingin diubah menjadi sel beta, misalnya, kesalahan acak sering terjadi di mana sel punca malah berubah menjadi sel lainnya.

Meskipun tidak berbahaya, kesalahan ini mengurangi efektifitas terapi sel punca dalam mengobati diabetes.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam studi baru yang dipublikasikan lewat jurnal Nature Biotechnology, tim peneliti yang dipimpin oleh Jeffrey Millman berhasil mengungkapkan metode baru mengubah sel punca yang dapat mengurangi kemungkinan sel punca meleset dari target.

Tim peneliti menarget sitoskeleton atau struktur yang memberi sel bentuknya. Dengan menarget sitoskeleton, tim peneliti bisa menghasilkan presentase sel beta yang lebih banyak dan berfungsi lebih baik.

Millman mengatakan, ini adalah pendeketan yang sangat berbeda, sangat berbeda dengan cara kami dulu melaksanakannya.

Baca juga: Diabetes Dapat Menyerang Usia Muda, Ini Penyebab dan Pencegahannya

"Sebelumnya, kami harus mengidentifikasikan berbagai protein dan faktor, dan membubuhkannya pada sel untuk melihat apa yang akan terjadi. Dengan semakin pahamnya kami akan sinyal-sinyal ini, kami mampu membuat proses ini semakin tidak acak," ujarnya.

Ketika tim peneliti memasukkan sel beta yang baru ini ke dalam tikus, hasilnya sangat mengejutkan.

Millman berkata bahwa tikus-tikus yang tadinya memiliki diabetes parah dengan hasil tes gula darah di atas 500 miligram per desiliter darah, tingkat yang bisa fatal pada manusia, bisa sembuh dalam dua minggu setelah diberi terapi sel punca dengan teknik baru ini.

Kadar gula darah pada tikus-tikus yang diteliti menjadi normal dan kondisi ini terus bertahan hingga sembilan bulan setelahnya.

Tim peneliti mengakui bahwa sejauh ini terapi mereka baru sebatas pengujian pada hewan sehingga hasilnya belum tentu sama bila diterapkan pada manusia.

Akan tetapi, Millman dan kolega berencana untuk terus melanjutkan penelitian mereka dan suatu saat sampai ke tahap pengujian klinis pada manusia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber New Atlas
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.