Labuan Bajo dan Pulau Komodo, Siap Dipasang Alat Deteksi Bencana

Kompas.com - 15/02/2020, 11:02 WIB
Panorama mentari tenggelam di Labuan Bajo, NTT. Hilda B Alexander/Kompas.comPanorama mentari tenggelam di Labuan Bajo, NTT.


KOMPAS.com - Pariwisata di Labuan Bajo dan Pulau Komodo, siap dipasang peralatan digital penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini multi bahaya geo-hidro meteorologi.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) siap memasangkan alat digital tersebut, dengan tujuan mengembangkan kedua lokasi wisata itu dari ancaman cuaca dan iklim ekstrem serta bahaya gempa bumi dan tsunami.

"BMKG siap mengamankan program pengembangan pariwisata di Labuan Bajo dan Pulau Komodo, dengan menguatkan sistem pemantauan dan peringatan dini multi bahaya geo-hidro meteorologi," kata Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Manggarai Barat, Sti Nenot'ek.

Disebutkan juga oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pemasangan seluruh peralatan digital tersebut sangat vital.

Baca juga: Jokowi Minta Labuan Bajo Bersih dari Kapal Kontainer

Pemantauan dan peringatan dini multi bahaya geo-hidrometeorologi yang dimaksudkan ialah gempa bumi, tsunami, gelombang tinggi dan cuaca ekstrem.

"Sehingga nanti potensi bencana geo-hidrometeorologi dapat dimitigasi secara tepat dan lebih dini," ujarnya.

Untuk diketahui, alat yang akan dipasang ini merupakan peralatan digital sebagai tambahan dari peralatan manual yang sudah ada, baik yang ada di Labuan Bajo maupun di Pulau Komodo sebelumnya.

Pada perangkat sebelumnya, petugas BMKG setempat harus mencatat dan membaca sendiri secara manual.

Baca juga: Sambut KTT G20, Labuan Bajo Bangun 2 Hotel Bintang Lima

Dengan adanya sistem dan perlatan digital yang baru ini, nanti petugas hanya tinggal melakukan analisis dari data yang muncul pada sistem. 

Petugas juga tidak perlu lagi mengecek kondisi secara manual di lapangan. Oleh karena itu, hasil analisisnya akan lebih cepat, terutama untuk mengantisipasi keadaan buruk akibat bencana geo-hidrometeorologi.

Kendati demikian, bukan hanya persiapan peralatan monitoring dan sistem peringatan dini saja yang diperlukan dalam mitigasi bencana geo-hidrometeorologi.

Dwikorita menambahkan penguatan pemahaman terhadap cuaca dan iklim serta potensi bahayanya juga perlu dilakukan kepada masyarakat di kawasan Labuan Bajo dan Pulau Komodo, termasuk para nelayan dan pemilik kapal-kapal wisata.

"Agar mereka lebih paham terhadap fenomena cuaca dan iklim yang dapat mempengaruhi aktivitas mereka di laut," kata dia.

Peralatan sistem manual sebelumnya

Sejak tahun 1997, Stasiun Meteorologi BMKG Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mulai mengoperasikan layanan informasi cuaca untuk penerbangan, pelayaran dan publik di daerah tersebut.

Selanjutnya pada tahun 2008, di daerah itu juga telah dikembangkan pula sistem pemantauan gempa bumi dan peringatan dini tsunami.

Automatic Weather Observing System (AWOS), sejak tahun 2015, telah digunakan untuk memberikan informasi cuaca terkait take off dan landing pesawat di Bandar Udara Komodo.

Kemudian, radar meteorologi maritim pada tahun 2018 dengan fungsi mendeteksi arus dan ketinggian gelombang, serta tsunami yang berpotensi terjadi di sekitar pelabuhan Labuan Bajo.

Selain alat tersebut, di Labuan Bajo dan Pulau Komodo telah dipasang Sensor Seismic atau seismograph, pada tahun 2019, dan menjadi alat untuk memberikan informasi terkait gempa bumi dan tsunami.

Baca juga: Jokowi Ungkap Desain Baru, Labuan Bajo Akan Berubah Total

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X