Sisa Makanan Ungkap Penggunaan Tembikar Kuno Zaman Es di Asia Timur

Kompas.com - 14/02/2020, 17:32 WIB
Pecahan keramik dari tembikar kuno dalam penelitian untuk mengungkap asal usul gerabah di zaman es Asia Timur. Pecahan keramik dari tembikar kuno dalam penelitian untuk mengungkap asal usul gerabah di zaman es Asia Timur.

"Namun dapat dipastikan tembikar tertua di dunia secara bertahap muncul di Asia Timur dan Timur Laut dari 20.000 hingga 10.000 tahun lalu," kata arkeolog dari Universitas Tokyol, Hiroyuki Sato.

Baca juga: Tembikar Kuno China Ungkap Resep Racikan Bir Berusia 5.000 Tahun

Saat itu, sesuai dengan berakhirnya zaman es, Pleistocene Ice Age, yang berlangsung sekitar 2,6 juta hingga 11.700 tahun yang lalu.

Sato yang tidak terlibat dalam penelitian itu mengungkapkan temuan residu kimia pada tembikar Gromatukha menjadi pandangan populer di kalangan peneliti.

Peneliti meyakini gerabah paling awal hanya digunakan untuk memasal ikan dan kerang. Sedangkan tim peneliti yang dipimpin Shoda memberikan bukti pertama tentang hewan darat yang dimasak di beberapa tembikar tanah liat yang menjadi tembikar paling awal di dunia.

Para peneliti menganalisa residu kimia pada 23 pecahan keramik tembikar dari tiga situs Osipovka dan lima pecahan keramik dari satu situs Gromatukha.

"Tanda-tanda ikan telah dimasak dalam tembikar Osipovka tidak mengejutkan," kata Shoda.

Sebab, ada lebih dari 100 spesies ikan air tawar saat ini ada di Sungai Amur, serta ikan seperti salmon yang kembali ke sungai setelah bertelur di akhir musim semi hingga awal musim gugur.

Penggalian di masa lalu setidaknya pada 15 situs menunjukkan tembikar Osipovka diproduksi dalam jumlah besar hanya setelah sekitar 13.700 tahun yang lalu.

Peneliti berspekulasi jika orang Osipovka mungkin mulai menggunakan tembikar keramik untuk menyiapkan ikan untuk acara atau upacara khusus, bukan makanan sehari-hari.

Hanya tiga situ Gromatukha yang digali, sehingga kurang diketahui tentang pembuatan tembikar dalam budaya itu.

Baca juga: Ini Isi Pesan Tersembunyi dari Tembikar Berusia 3000 Tahun

Namun, Shoda menjelaskan, residu kimia pada salah satu sampel pecahan tembikar, menunjukkan menu yang dimasak masyarakat Gromatukha sangat bergantung pada hewan darat.

Dalam sebuah makalah yang dipublikasikan pada 2016 lalu, Shoda dan tim penelitiannya melaporkan bukti kimia dari tradisi pembuatan tembikar ketiga yang sebanding yang muncul di Jepang.

Tembikar khas budaya J?mon di Jepang, digali di satu situs yang terpelihara dengan baik.

Para ilmuwan menemukan tembikar gerabah ini digunakan untuk memasak ikan dan moluska dari sekitar 14.000 tahun yang lalu hingga hingga 5.000 tahun yang lalu.

Baca juga: Menjaga Warisan Gerabah dari Generasi ke Generasi di Borobudur

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Oh Begitu
3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

Fenomena
Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Fenomena
Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Oh Begitu
Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Fenomena
Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Oh Begitu
Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Fenomena
Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena
BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

Fenomena
Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Oh Begitu
Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Fenomena
CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

Kita
Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X