Penyakit Menular Seksual Sifilis, Kenali Tahapan dan Gejala Infeksinya

Kompas.com - 13/02/2020, 09:03 WIB
Ilustrasi penyakit sifilis (penyakit menular seksual) Ilustrasi penyakit sifilis (penyakit menular seksual)

Tahapan ketiga adalah sifilis laten, di mana bakteri mulai mengenai banyak organ tubuh. Pada tahap ini, sifilis tidak terdapat lesi dan terjadi tanpa gejala dalam 12 bulan pertama. Untuk mengetahuinya, diperlukan tes serologi reaktif.

4. Sifilis tersier

Pada tahapan yang paling berbahaya yaitu sifilis tersier, terjadi infeksi pembuluh darah yang dapat menyebabkan gejala seperti kebutaan, kerusakan jantung, otak, syaraf, tulang, hati, tuli bahkan kematian.

“Kalau sudah syaraf disebut neurosifilis, kalau sudah kena jantung disebut cardiosifilis, kalau ibu ke janin disebut sifilis kongenital, gejala di kulit pada sifilis lanjut disebut gumma, gejalanya tidak hanya di kulit, tapi bisa juga mengenai organ lain” ujar CEO Klinik Pramudia, dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDSV.

Baca juga: Jumlah Penderitanya Naik, Ini yang Perlu Diketahu Tentang Sifilis

Pengobatan sifilis pada ibu hamil

Jika Anda mengalami gejala di atas, maka disarankan untuk segera mengobatinya ke dokter. Dokter akan melakukan wawancara, lalu melakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium hingga menentukan terapi yang cocok bagi pasien penderita.

“Setelah Anda didiagnosa sifilis, obat utamanya adalah Penisilin, kita harus bersyukur karena Penisilin masih sensitif terhadap bakteri,” sambung Anthony.

Ketika seorang ibu menderita sifilis, maka janin yang dikandungnya juga akan menderita penyakit tersebut. Kondisi ini disebut sefilis kongenital yang menyebabkan kematian janin atau kecacatan setelah janin dilahirkan.

Baca juga: Bagaimana Mendeteksi Infeksi Sifilis seperti Kasus di Jepang?

Untuk mengetahui sifilis kogenital, Wresti menganjurkan untuk para ibu hamil untuk melakukan tes sifilis.

“Kemenkes sudah punya program untuk ibu-ibu hamil supaya dicek sifilis, dicek HIV, dan cek hepatitis, yang disebut program triple elimination” ujar Wresti.

Jika seseorang telah sembuh dari sifilis, bukan berarti dia menjadi kebal terhadap bakteri Treponema pallidum. Sebab, pasien tersebut masih berpeluang kembali menderita sifilis.

Pasien dengan gejala sifilis yang muncul kembali, memiliki peningkatan empat kali lipat mungkin gagal dalam pengobatan sebelumnya atau terinfeksi kembali, sehingga harus diberikan pengobatan yang lebih serius.

Baca juga: Ini Efek Samping Pengobatan Sifilis

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X