Pendeteksi dan Pengendali Penyakit Infeksi Baru, Apa Itu SIZE 2.0?

Kompas.com - 10/02/2020, 13:02 WIB
Aplikasi SIZE 2.0 FAO INDONESIAAplikasi SIZE 2.0

 

KOMPAS.com - Kementerian Pertanian ( Kementan) dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyatakan bahwa perlu pendekatan One Health ( SIZE 2.0) untuk mendeteksi dan mengendalikan penyakit baru.

Dikatakan Direktur Jenderal PKH, I Ketut Diarmita, pernyataan ini dikeluarkan terkait dengan merebaknya virus jenis baru yaitu novel Coronavirus (2019-nCoV).

"Belajar dari pengalaman sebelumnya, yakni wabah SARS dan MERS CoV, untuk mengendalikan penyakit infeksi baru (PIB) diperlukan adanya integrasi deteksi dan respons dari berbagai sektor terutama kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan kesehatan satwa liar," kata Diarmita di Jakarta, Jumat (7/02/2020).

Baca juga: Update Virus Corona 10 Februari: 910 Tewas, 40.553 Positif Terinfeksi

Menurut Diarmita, walaupun memang ada kepastian bahwa 2019-nCov ini berasal dari hewan, kewaspadaan terhadap kemungkinan ini harus tetap ditingkatkan.

Adapun, cara yang dianggap efektif dalam mencegah dan mengendalikan PIB atau Emerging Infectious Disease (EID) adalah dengan berbagi informasi secara real-time dengan data yang terintegrasi.

Tujuannya yaitu supaya respon terhadap penyakit dapat dilakukan tepat waktu, efisien, dan akurat oleh sektor terkait. 

One Health ( Size 2.0)

Kementan bersama dengan FAO Indonesia dan didukung oleh USAID telah memprakarsai pembangunan platform berbagi informasi One Health yang dikenal dengan SIZE 2.0.

Unuk diketahui, SIZE 2.0 adalah singkatan dari Sistem Informasi Zoonosis dan EID versi 2.0, gunanya memfasilitasi pertukaran data dan informasi serta komunikasi antara semua sistem pengawasan dari sektor kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan kesehatan satwa liar.

Integrasi sistem pelaporan ini, kata Diarmita, memungkinkan adanya deteksi dan respon penyakit secara dini.

SIZE 2.0 ini menghubungkan tiga sistem informasi yakni Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), Kemenkes dan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) Kementan, Sistem Informasi Kesehatan Satwa Liar (SehatSatli), serta KLHK.

Baca juga: Peringatan untuk Kita, Pasar Hewan Bisa Lahirkan Wabah Penyakit

Kemenko PMK juga ikut terlibat dalam mengkoordinasi SIZE 2.0 ini.

Sementara itu, Ketua Tim Unit Khusus FAO di Bidang Kesehatan Hewan (FAO ECTAD) Indonesia, James McGrane mengatakan bahwa SIZE 2.0 menjawab kebutuhan akan sistem informasi pengawasan terintegrasi lintas sektoral.

Hal itu dikarenakan SIZE 2.0 menekankan pada peran petugas lapangan dari tiga sektor yang berbeda.

Platform ini, kata James, juga memfasilitasi kolaborasi lintas sektoral dan koordinasi dari petugas lapangan hingga pengambil keputusan, untuk berbagi data guna menghasilkan informasi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit infeksi dari hewan ke manusia atau zoonosis.

Baca juga: 5 Daftar Penyakit Zoonosis Paling Mematikan, H1N1 sampai Virus Corona

Kendati demikian, saat ini SIZE 2.0 masih dalam tahap penyempurnaan dan sedang diujicobakan di empat kabupaten percontohan One Health di Indonesia. Antara lain Minahasa di Sulawesi Utara, Ketapang di Kalimantan Barat, Boyolali di Jawa Tengah, dan Bengkalis di Riau.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupatan Boyolali, Afiani Rifdania, sebagai salah satu pengguna model SIZE 2.0 ini mengatakan dengan adanya SIZE 2.0, maka berbagi data dan informasi sekarang menjadi lebih mudah.

"Satu klik dan kita bisa melihat kasus-kasus yang terjadi di sektor lain,” ujarnya.

Afiani juga berharap meski saat ini SIZE 2.0 masih dalam proses penyempurnaan, tetapi ke depannya dapat digunakan di seluruh Indonesia.

Sehingga Pemerintah selalu siap untuk mencegah dan mengendalikan penyakit infeksi baru atau berulang yang sebagian besar menular dari hewan ke manusia.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X