Fenomena Alam Bukit Pasir Saling Berkomunikasi, Ahli Jelaskan

Kompas.com - 06/02/2020, 20:33 WIB
Ilustrasi bukit pasir. Bukit pasir di Sossusvlei, Namibia adalah yang tertinggi di dunia.
Axel TschentscherIlustrasi bukit pasir. Bukit pasir di Sossusvlei, Namibia adalah yang tertinggi di dunia.

Sebaliknya, ketika dua bukit pasir dengan volume dan bentuk yang sama dapat mengambil isyarat satu sama lain, maka mereka dapat mengurangi kecepatan untuk bergerak lebih jauh tanpa mempertimbangkan sebagian besar massa mereka dalam proses tersebut.

"Kami telah menemukan ( fenomena) fisika yang belum menjadi bagian dari model sebelumnya," kata Vriend.

Penelitian dilakukan dengan membuat saluran berisi air yang berputar dan tim membuat dua bukit pasir yang identik. Kedua bukit ini berputar selama berjam-jam pada suatu waktu.

Setelah bergerak 180 derajat untuk mencapai sisi berlawanan dari saluran melingkar, bukit pasit utama melambat ke kecepatan yang sama dengan yang lainnya.

"Struktur aliran di belakang gundukan depan seperti terbangun di belakang perahu dan memengaruhi karakter gundukan berikutnya," jelas Vriend.

Dengan menciptakan turbulensi dalam aliran air, gundukan pertama mendorong yang di belakangnya. Dengan kata lain, struktur pertama menjadi pemimpin dalam berinteraksi dengan memukul mundur tetangganya di hilir.

Berkomunikasi melalui bangkitnya struktur baru, dan melepaskan sedikit dari massanya sendiri dalam proses itu.

Baca juga: Misteri Watu Gong Wonosobo, Bagaimana Bisa Pasir Pantai sampai ke Goa?

Antisipasi dampak perubahan iklim

Fenomena bukit pasir terdekat dipukul mundur oleh bukit pasir lainnya ini terlihat dari gambar satelit, namun penyebab kekuatan yang mendorongnya tidak pernah dipahami.

Akhirnya, 'efek tolakan' gundukan ini membuat kedua struktur seimbang, sehingga mereka bergerak dengan kecepatan yang sama, mencegah kemungkinan tabrakan.

"Oleh karena itu kami menyimpulkan masuk akal apabila struktur bidang gundukan bawah air alami dikontrol dan distabilkan oleh mekanisme tolakan gundukan yang sama yang diamati dalam karya ini," tulis para penulis.

Jika aktivitas ini juga ada di darat, ini bisa menjadi sangat penting untuk antisipasi perubahan iklim.

Baca juga: Sebagian Pasir Pantai Berasal dari Kotoran Ikan, Kok Bisa?

Sebab, selama bertahun-tahun, pemanasan global telah meningkatkan pergerakan bukit pasir di beberapa belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat, Afrika, dan Antartika.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Physical Review Letters ini dapat menjadi pedoman untuk mencari tahu ke mana arah struktur pasir raksasa ini bergerak, serta bagaimana mereka melakukan perjalanan.

Fenomena ini dapat menjadi sinyal, untuk memungkinkan kita menyiapkan pertanian, jalan, infrastruktur, dan lahan mata pencaharian agar terhindar dari potensi tabrakan dengan bukit pasir di masa yang akan datang.

Baca juga: Ini Gurun Terkecil di Dunia, Lebih Kecil dari Gumuk Pasir Parangtritis

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X