Marak Prostitusi Anak, Ahli Sebut 3 Faktor Pemicu Tak Terelakkan

Kompas.com - 06/02/2020, 12:34 WIB
Ilustrasi kekerasan seksual anak. SHUTTERSTOCKIlustrasi kekerasan seksual anak.

Menurut Ghianina, tanpa edukasi yang cukup dan memadai, masyarakat juga menjadi mudah untuk dimanipulasi dan dieksploitasi oleh orang lain.

"Tanpa memiliki pemikiran kritis dan pemahaman yang mendasar mengenai hak asasi manusia, terutama anak-anak. Jika menurut mereka hal tersebut dapat menyelesaikan masalah yang dimiliki, mereka tidak berpikir panjang lagi untuk melakukannya karena tidak memiliki dasar pemahaman dan pendidikan yang kuat untuk mengetahui bahwa perilaku tersebut tidak tepat," paparnya.

Faktor lingkungan

Faktor lingkungan tempat tinggal juga disebut Ghianina dapat mempengaruhi fenomena ini.

Jika seorang anak tumbuh di lingkungan tempat tinggal dengan banyak paparan terkait prostitusi, misalnya tinggal di daerah yang banyak terdapat aktivitas prostitusi atau anggota keluarganya memiliki peran dalam tindakan prostitusi, sang anak dapat belajar dan memiliki pemahaman hal tersebut sebagai hal biasa dan memproyeksikan ke pengalaman hidup nya.

Selain itu, jika sang anak tinggal dan tumbuh di dalam keluarga yang memiliki sejarah kekerasan seksual dan merupakan korban seksual, disebut Ghianina juga dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak untuk melakukan hal yang sama.

Ini dikarenakan sang anak tidak memiliki pemahaman yang tepat mengenai tindakan seksual tersebut dan tidak bisa membedakan apa yang benar dan salah.

"Terlebih jika tidak adanya bimbingan yang diberikan oleh orang tua atau orang terdekat mengenai hal tersebut," katanya.

Baca juga: Jasa Prostitusi Artis, Kenapa Ada Orang Rela Bayar Mahal untuk Kencan?

Prostitusi anak adalah penyimpangan seksual

Lantas, apakah prostitusi anak juga merupakan penyimpangan seksual?

Ghianina menjelaskan ada bebera keadaan yang bisa membuat prostitusi anak menjadi penyimpangan seksual.

Prostitusi anak disebut sebagai bentuk penyimpangan seksual ketika seorang dewasa melakukan tindakan atau aktivitas seksual dengan seorang anak di bawah umur.

Hal ini termasuk bertanya, memaksa, atau dengan cara lain agar bisa melakukan aktivitas seksual dengan anak di bawah umur.

"Sedangkan, perilaku yang mengakomodir terjadinya tindakan seksual antara seorang dewasa dengan anak tergolong dalam tindakan kriminal," jelasnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X