Memiliki Banyak Virus, Bagaimana Kelelawar Bisa Hidup Sangat Lama?

Kompas.com - 02/02/2020, 19:04 WIB
Joly Adrian saat melayani pembeli daging kelelawar di Pasar Pinasungkulan Karombasan, Kota Manado, Selasa (28/1/2020) pukul 08.23 WITA KOMPAS.com/SKIVO MARCELINO MANDEYJoly Adrian saat melayani pembeli daging kelelawar di Pasar Pinasungkulan Karombasan, Kota Manado, Selasa (28/1/2020) pukul 08.23 WITA

Bagaimana kelelawar hidup lama dengan virus?

Mempelajari bagaimana kelelawar hidup dan membawa begitu banyak virus penyakit telah menjadi pertanyaan mendalam bagi sains.

Penelitian baru menunjukkan, jawaban dari pertanyaan itu mungkin terkait bagaimana adaptasi evolusi kelelawar untuk terbang mengubah sistem kekebalan tubuh mereka.

Dalam makalah yang terbit tahun 2018 di Cell Host dan Microbe, para ilmuwan di China dan Singapura melaporkan penyelidikan mereka tentang bagaimana kelelawar menangani sesuatu yang disebut penginderaan DNA.

Tuntutan energi penerbangan begitu besar sehingga sel-sel di dalam tubuh terurai dan melepaskan serpihan DNA yang kemudian mengambang di tempat yang seharusnya.

Mamalia, termasuk kelelawar, memiliki cara untuk mengidentifikasi dan merespons potongan DNA semacam itu, yang mungkin mengindikasikan invasi organisme penyebab penyakit.

Namun pada kelelawar, ahli menemukan, evolusi telah melemahkan sistem itu, yang biasanya akan menyebabkan peradangan saat melawan virus.

Kelelawar telah kehilangan beberapa gen yang terlibat dalam respons itu, yang masuk akal karena peradangan itu sendiri dapat sangat merusak tubuh. Mereka memiliki respons yang melemah tetapi masih ada.

Dengan demikian, para peneliti menulis, tanggapan yang melemah ini memungkinkan mereka untuk mempertahankan "keadaan seimbang 'tanggapan efektif' tetapi tidak 'tanggapan berlebihan' terhadap virus."

Cara mengelola dan mengandung wabah virus saat ini yang secara resmi dikenal sebagai 2019-nCoV, tentu saja, sangat penting sekarang.

Tapi melacak asal-usulnya dan mengambil tindakan untuk memerangi wabah lebih lanjut mungkin sebagian bergantung pada pengetahuan dan pemantauan kelelawar.

"Wabah dapat dikendalikan. Tetapi jika kita tidak tahu asal usulnya dalam jangka panjang maka virus ini dapat terus meluas," kata Dr. Daszak.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X