Kompas.com - 15/01/2020, 18:03 WIB
Ilustrasi tsunami ShutterstockIlustrasi tsunami


KOMPAS.com - Para ilmuwan menyebutkan gempa bumi di Mentawai 2010 menjadi peristiwa yang jarang terjadi, tetapi mematikan dan perlu diwaspadai.

Ahli tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko mengatakan gempa tsunami di Mentawai pada 2010, bertipe gempa lambat dan menyebabkan terjadinya tsunami.

"Tsunami itu berkategori tsunami earthquake (gempa bumi tsunami)," kata Widjo, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/1/2020).

Baca juga: Kenapa Gempa dan Tsunami Mentawai 2010 Langka, Begini Penjelasan Ahli

Berdasarkan beberapa publikasi, kata Widji, gempa bumi tsunami kategori ini di Indonesia cukup banyak terjadi. Namun, biasanya hanya disebut masyarakat dengan tsunami saja.

Di antaranya Tsunami Simeulue (1907), Tsunami Banyuwangi (1994), Tsunami Aceh (2004), Tsunami Pangandaran (2006) dan Tsunami Mentawai (2010).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lantas, penyataan ini menimbulkan pertanyaan dasar, apa yang bisa dipelajari dan bagaimana antisipasi di masa yang akan datang dari gempa bumi tsunami di Mentawai 2010?

Widjo menegaskan tentu ada pembelajaran yang bisa diambil dari peristiwa terjadinya gempa bumi magnitudo kecil, tetapi dapat menyebabkan tsunami dan menewaskan ratusan orang di sana.

Baca juga: Memahami Gempa Pembuka Lewat Lindu di Nias Selatan dan Mentawai

1. Tetap waspada dengan gempa bekekuatan kecil sekalipun

Sejak saat itu, disadari bahwa meski gempa bumi yang getarannya dapat dirasakan hanya pelan saja, tetapi ternyata dapat mengakibatkan tsunami yang besar.

Bahkan ketika itu air laut tsunami lebih dari 11 meter tingginya, serta dengan waktu tiba yang sangat singkat yaitu lima menit.

2. Banyak daerah terpapar tsunami

Daerah terpapar dampak tsunami itu tersebar dan banyak di daerah teluk atau tanjung.

Terutama pada pemukimanan yang berada di pinggir pantau atau muara sungai dengan korban yang berjumlah banyak juga.

3. Adaptasi dan evakuasi mandiri

Widjo mengatakan bahwa bentuk antisipasi ke depannya adalah tataruang untuk hunian perlu agak menjauh dari pantai.

Selain itu juga, karena gempa bumi tsunami yang langka ini dapat tiba dalam waktu singkat.

Maka dari itu, evakuasi mandiri penting dikombinasikan dengan Early Warning System (EWS) yang cepat dan efektif.

Baca juga: Belajar dari Mentawai, Mewaspadai Tsunami yang ?Senyap?



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X