Kompas.com - 23/12/2019, 18:30 WIB
Baby walker Andrew Skudder/CC BY-SA 2.0Baby walker

KOMPAS.com – Sesuai namanya, baby walker adalah alat bantu untuk anak belajar berjalan. Baby walker banyak dijual di pasaran dalam berbagai bentuk.

Pada umumnya, baby walker berbentuk dorongan dan memiliki dua atau empat roda. Anak memegang gagang baby walker seperti kita mendorong troli di swalayan. Ada pula baby walker yang berbentuk bulat, anak tinggal duduk pada bagian tengah dan menggerakkan kakinya untuk geser ke berbagai arah.

Baby walker dipercaya bisa membuat bayi jalan lebih cepat. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) rupanya melarang dan tidak merekomendasikan penggunaan baby walker. Hal ini karena baby walker memiliki risiko bayi jatuh dan cidera yang berbahaya.

American Academy of Pediatric menyebutkan pada data yang diperoleh dari National Electronic Injury Surveillance System, bahwa cidera pada anak-anak di bawah usia 15 bulan sepanjang 1990-2014 adalah sebanyak 230.676 kasus.

Baca juga: Ahli Larang Anak Pakai Baby Walker, Mengapa?

Bahkan, American Academy of Pediatric melarang penggunaan baby walker untuk anak-anak di negara tersebut. Selain Amerika, Kanada juga melarang penggunaan, pembuatan, dan pendistribusian baby walker.

“Anak-anak yang memakai baby walker dapat bergerak sangat cepat dan risiko jatuh, terlempar, terbentur, tenggelam, dan dapat menggapai benda yang lebih tinggi sangat mudah mencederai bayi. Bahkan dalam pengawasan orangtua,” tutur Dokter Spesialis Anak dari RS Pondok Indah Bintaro Jaya, dr Fransiska Farah, Sp.A, M.Kes kepada Kompas.com.

dr Fransiska menegaskan, penggunaan baby walker tidak membuat anak lebih cepat berjalan.

“Penggunaan baby walker juga tidak membuat anak lebih cepat berjalan. Anak sebaiknya dibantu orangtua berjalan dengan memegang kedua tangan anak ke atas, dan anak akan melangkah setapak demi setapak,” paparnya.

Baca juga: Seri Baru Jadi Ortu: Dibanding Baby Walker, Ahli Sarankan Anak Dititah

Penggunaan baby walker, menurut dr Fransiska, akan melatih otot kaki bagian bawah tanpa melatih otot tungkai atas dan panggul.

“Otot tungkai atas dan panggul justru sangat penting dalam proses berjalan. Bayi yang menggunakan baby walker juga tidak dapat melihat kedua kakinya, sehingga tidak menggunakan koordinasi mata dan keseimbangan dalam berjalan,” tutupnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Kita
8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

Kita
Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X