Belajar dari Desa Ngadas, Kesuksesan Tak Melulu tentang Diri Sendiri

Kompas.com - 13/12/2019, 11:29 WIB
Salah satu warga Suku Tengger penganut Agama Hindu usai melaksanakan Hari Raya Galungan di Pura Sapto Argo, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (30/5/2018) KOMPAS.com / Andi HartikSalah satu warga Suku Tengger penganut Agama Hindu usai melaksanakan Hari Raya Galungan di Pura Sapto Argo, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (30/5/2018)

KOMPAS.com - Berbicara tentang kesuksesan, banyak pemuda mungkin akan berpikir soal bagaimana meraih pencapaian untuk diri sendiri. Namun, hal itu tak terlihat pada pemuda di Desa Wisata Adat Ngadas, Jawa Timur.

Hal ini disampaikan pasangan peneliti muda Rara Sekar dan suaminya Ben K. C. Laksana dalam acara bertajuk Indonesia 2045: Meet Young Scientists, di Perpustakaan Nasional RI, Sabtu (7/12/2019).

Pasangan yang fokus pada kajian antropologi sosial dan budaya itu mengatakan, mereka pernah datang ke Desa Ngadas untuk mengamati arti kesuksesan dalam pembangunan dan pendidikan di mata pemudanya.

Baca juga: LIPI Buka Science Expo 2019 untuk Membumikan Sains ke Masyarakat

Tentang Desa Ngadas dan pemudanya

Desa Adat Ngadas terletak di tengah kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS). Desa ini merupakan satu dari 36 desa yang dihuni suku bangsa Tengger.

Rara Sekar yang juga seorang penyanyi itu menjelaskan, anak muda di Desa Ngadas dikenal dengan kepemilikan atas lahan, pertanian kentang yang sukses, tingkat urbanisasi yang rendah, dan juga pendidikan formal yang berhenti di tingkat SMP.

Dari semua yang melekat di masyarakat desa Ngadas, satu yang tak bisa dilepaskan adalah adat istiadat.

Adat sangat penting di Desa Ngadas.

Oleh sebab itulah, adat istiadat dan kearifan lokal yang terus dipelihara otomatis membentuk pandangan anak muda di Desa Ngadas melihat dunia.

Kakak kandung Isyana Sarasvati itu mengatakan, adat istiadat sangat memengaruhi praktik sosial di Desa Ngadas. Ini terlihat dalam pekerjaan, keluarga, dan agama.

Modal sosial atau relasi sosial menjadi makna simbolik tinggi, baik untuk individu maupun komunitas yang terjadin dalam relasi timbal balik untuk mempertahankan kerukunan di sana.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X