Kompas.com - 12/12/2019, 21:57 WIB
Purnama terakhir di 2019. Diabadikan oleh Farid Nur Bahti, member Jogja Astro Club, dari kediamannya di Makassar. Farid Nur BahtiPurnama terakhir di 2019. Diabadikan oleh Farid Nur Bahti, member Jogja Astro Club, dari kediamannya di Makassar.

"Dinamakan demikian merujuk pada tradisi suku Indian Algonquin (yang dulu tinggal di utara dan timur daratan AS) karena Bulan purnama ini merupakan yang terakhir di musim gugur dan terjadi pada malam yang dingin dan panjang," katanya.

Sementara itu, bangsa Eropa zaman dulu menyebut purnama pada bulan Desember sebagai Oak Moon karena berlangsung pada saat mistle toe (aksesoris natal) dipanen dari pohon-pohon oak saat masa Romawi kuno.

Namun demikian, kini bangsa Eropa lebih mengenal Long Night Moon untuk menyebut purnama Desember. Penyebabnya, purnama ini berdekatan waktu dengan titik balik musim dingin (winter solstice) pada Matahari.

Winter solstice yang terjadi pada tanggal 22 Desember merupakan hari dengan durasi malam terpanjang untuk belahan Bumi utara.

Alhasil, pada kawasan ekstrem seperti Skandinavia bagian utara, Long Night Moon bahkan terjadi kala Matahari tidak terbenam sama sekali (midnight sun).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.