Kebutuhan Pangan Akan Bertambah 80 Persen pada 2100

Kompas.com - 10/12/2019, 19:03 WIB
Ilustrasi beras di gudang Bulog KOMPAS / HENDRA A SETYAWANIlustrasi beras di gudang Bulog

KOMPAS.com – Perubahan fisik manusia khususnya Body Mass Index (BMI) berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan kalori secara global.

Penelitian yang dilakukan oleh akademisi di University of Gottingen, mengestimasi konsumsi makanan akan bertambah sebesar 80 persen pada akhir abad ini.

Para peneliti telah mengeluarkan peringatan terhadap adanya peningkatan kebutuhan pangan di masa mendatang. Sementara itu, penyedia makanan mungkin akan kesusahan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Selain itu, Sumber Daya Alam (SDA) pun akan semakin menipis di kemudian hari akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Baca juga: Sagu Papua untuk Kebutuhan Pangan Indonesia dan Dunia

Sebesar 60 persen dari kenaikan kebutuhan tersebut adalah karena bertambahnya populasi.

Bahkan jika tinggi badan dan BMI penduduk dunia cenderung statis, kebutuhan pangan juga akan tetap besar. Buktinya, 20 persen dari kenaikan kebutuhan pangan adalah untuk pemenuhan manusia-manusia berbadan besar.

Profesor Stephan Klasen dan mahasiswa doctoral Lutz Depensbuch melakukan investigasi bagaimana perubahan massa tubuh terjadi pada penduduk Belanda dan Meksiko.

Di Meksiko, BMI para penduduknya meningkat drastis. Sementara di Belanda, tinggi badan penduduknya juga meningkat drastis. Pria Belanda kini memiliki tinggi rata-rata 183 cm. Bandingkan dengan tahun 1914 hingga 2014, tinggi badan rata-ratanya 170 cm.

“Perkembangan BMI di negara-negara dunia bisa diprediksi, dan menunjukkan sesuatu yang realistis,” tutur Dr Depensbuch seperti dikutip dari Selasa (10/12/2019).

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Jika produksi makanan secara global tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan ini, para ilmuwan khawatir masalah tersebut tidak bisa dikontrol oleh penurunan BMI. Sementara orang kaya bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka, orang miskin akan menderita.

Selain itu, harga pangan juga akan meningkat akibat kurangnya pasokan.

“Ini akan berakhir pada konsumsi makanan murah, yang tinggi kalori namun miskin nutrisi. Hasilnya, berat badan orang-orang miskin akan bertambah namun mengalami malnutrisi,” tambah Dr Depenbusch.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X