Goo Hara Meninggal, Bagaimana Komentar Jahat Netizen Bisa Membunuh?

Kompas.com - 25/11/2019, 18:32 WIB
Penyanyi Korea Selatan Sulli (kiri) dan Goo Hara (kanan). kolase fotoPenyanyi Korea Selatan Sulli (kiri) dan Goo Hara (kanan).

KOMPAS.com – Meninggalnya Goo Hara kembali menguatkan desakan di Korea Selatan untuk meregulasi komentar jahat.

Semasa hidup, Goo Hara, seperti sahabatnya Sulli, kerap menerima komentar-komentar jahat netizen terkait masalah kekerasan yang dilakukan pacarnya atau operasi plastik.

Untuk diketahui, pada bulan lalu Sulli ditemukan gantung diri di apartemennya. Dia diduga mengalami depresi berat karena selalu menerima ujaran kebencian dari netizen.

Baik Goo Hara maupun Sulli merupakan korban penindasan di dunia maya atau cyberbullying.

Dilansir dari artikel Kompas.com pada Rabu (16/10/2019); Linda Setiawati yang merupakan psikolog Personal Growth berkata bahwa cyberbullying memang dapat menyebabkan depresi, tetapi tidak langsung.

Baca juga: Goo Hara Meninggal, Kenapa Artis Lelah jadi Terkenal dan Picu Depresi?

Ada orang yang bisa cuek ketika membaca komentar negatif dan ada juga yang malah menjadi cemas.

Jika korban adalah tipe yang menjadi cemas, mungkin pada awalnya dia akan mengalami berbagai dampak negatif pada psikisnya, seperti ketakutan, marah, merasa sendirian dan kepercayaan diri yang menurun.

Keadaan ini bisa membuatnya sulit tidur dan insomnia yang menganggu kesehatan fisiknya.

Jika korban terus menerus membaca komentar jahat, maka mereka cenderung mengalami perubaha perilaku, seperti jadi mengurung diri dan menghindari lingkungan sosial.

Kondisi ini lama kelamaan menjadi semakin parah sehingga korban pun mengalami gejala-gejala depresi atau kecemasan.

Depresi berat, seperti yang dialami Sulli, bisa membuat korban putus asa dan timbul keinginan untuk mengakhiri hidup.

Baca juga: Sulli f(x) Bunuh Diri, Begini agar Orang Terdekat Tak Lakukan Hal Sama

Melindungi diri dari cyberbullying

Untuk melindungi diri dari dampak buruk cyberbullying, Linda menyarankan untuk tidak langsung reaktif dan memberikan tanggapan pada komentar jahat.

Dia berkata bahwa hal yang harus diingat saat mendapat cyberbullying adalah sadar dan memahami bahwa orang yang berkomentar sebetulnya tidak mengetahui kondisi kita yang sebenarnya, sehingga komentarnya juga belum tentu benar.

Selain itu, Linda juga menyarankan untuk memberanikan diri bercerita dengan orang terdekat.

Sebab, menjalin hubungan sosial dengan orang lain dapat mencegah terjadinya depresi akibat cyberbullying.

Kemudian, bila komentar-komentar jahat dianggap sudah terlalu menganggu, maka mintalah bantuan dari orang yang lebih dewasa atau berwenang.

Sumber: KOMPAS.com (Gloria Setyvani Putri)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X