Kompas.com - 20/11/2019, 12:03 WIB
Ilustrasi transaksi non-tunai menggunakan smartphone. ThinkstockIlustrasi transaksi non-tunai menggunakan smartphone.

KOMPAS.com - Penelitian terbaru menunjukkan prevalensi kecanduan internet pada remaja di Jakarta adalah sebesar 31,4 persen. Hasil temuan ini lebih tinggi dari kota-kota lain di Asia.

Hal tersebut disampaikan oleh dr Kristiana Siste SpKJ(K) berdasarkan hasil penelitian yang ia lakukan untuk memenuhi syarat promosi doktor Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Selasa (19/11/2019).

Kristiana mengatakan bahwa prevalensi pengguna internet yang lebih tinggi dari negara lain ini disebabkan karena 97 persen remaja di Jakarta memiliki gawai pintar. Kemudian, sebanyak 91,1 persen remaja mengakses internet di rumah.

"Oleh karena itu akses terhadap internet sangat mudah. Remaja yang memiliki masalah emosional sekitar 48,5 persen dan masalah perilaku 56,3 persen, sehingga mengakibatkan mereka menggunakan internet untuk modifikasi mood," kata Kristiana.

Baca juga: Alasan Kenapa Kita Kecanduan Menjelajah Internet Tanpa Tujuan

Untuk menghasilkan data tersebut, kata Kristiana, penelitian dilakukan dengan melibatkan populasi remaja pada SMP dan SMA di Jakarta. Untuk mengetahui hubungan kecanduan internet dengan kerja otak, maka dilakukan pemeriksaan pencitraan otak dengan menggunakan functional MRI.

"Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengembangkan kuesioner skrining kecanduan internet pada remaja di Indonesia," ujar dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mekanisme penelitian yang dilakukan

Saat ini, diakui Kristiana, memang belum ada alat ukur baku emas yang mendiagnosis kecanduan internet secara tepat dan dapat digunakan secara universal.

Oleh sebab itu penggunaan Kuesioner Diagnostik Adiksi Internet (KDAI) dianggap menjadi pilihan yang tepat untuk memberikan analisis persoalan kecanduan internet dan segala aspek terkait.

KDAI ini sendiri dikembangkan dari budaya remaja Indonesia, sehingga pernyataan yang ada pada KDAI dapat dimengerti oleh remaja dari berbagai latar belakang. KDAI terdiri dari 44 pernyataan.

Ilustrasi remaja bercengkramaISTOCKPHOTO/FERLISTOCKPHOTO Ilustrasi remaja bercengkrama

Waktu pengisian kuesioner kurang dari 10 menit. KDAI memiliki sensitivitas yang tinggi sebagai alat skrining dan dapat digunakan oleh guru, orang tua, dan tenaga kesehatan profesional.

KDAI juga dapat menggambarkan konektivitas fungsional otak remaja sehingga tidak lagi diperlukan pemeriksaan Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI) untuk mengetahui perubahan konektivitas otak.

"Penelitian menunjukkan pada remaja dengan kecanduan internet akan memiliki konektivitas yang menurun pada area Lateral Parietal kanan dengan Lateral Prefrontal Cortex kiri," tuturnya.

Baca juga: Awas, Kebiasaan Self Diagnosis dari Internet Bisa Berbahaya

Kedua area tersebut berguna untuk mengendalikan perilaku impulsif termasuk saat bermain internet.

"Pada remaja dengan kecanduan internet tidak dapat mengendalikan perilaku untuk terus bermain internet, dan tidak memiliki penilaian diri yang baik terhadap perilaku bermain internet," ujar dia.

Terdapat juga simpulan data bahwa 7 dari 10 remaja perempuan menggunakan internet dengan tujuan utama mengakses media sosial. Sementara itu, 9 dari 10 remaja laki-laki menggunakan internet dengan tujuan utama bermain online game.

Online game yang paling sering digunakan adalah MOBA, sementara media sosial yang paling sering digunakan adalah Instagram dan Line.

Faktor risiko

Dituturkan dr Kristiana, dari hasil analisis dengan berbagai faktor risiko dan proteksi menunjukkan beberapa faktor yang bermakna.

Yaitu tujuan penggunaan internet untuk permainan daring dan media sosial, durasi penggunaan internet lebih dari 20 jam per minggu, dan usia awitan penggunaan internet kurang dari 8 tahun.

Faktor risiko lain adalah masalah emosi, masalah perilaku dan masalah perilaku prososial. Perilaku prososial adalah kemampuan remaja untuk berempati terhadap orang lain.

Baca juga: Puasa Internet di Tengah Era Digital, Mungkinkah Hal Ini Dilakukan?

Selain itu, hampir semua remaja memiliki atau diberikan kepemilikan atas gawai pintar. Mereka juga didukung dengan fasilitas internet yang tersedia di rumah, dan di berbagai tempat atau sarana publik.

Mencegah kecanduan internet pada remaja

Hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk mencegah, dikatakan dr Kristiana sebagai faktor proteksi, dari kecanduan internet yaitu pola asuh non-exposure.

"Pola asuh non-exposure memberikan kebebasan pada remaja dengan batasan tanggung jawab yang jelas serta memberikan kehangatan pada remaja," kata dia.

Ilustrasi internet of things.THINKSTOCKS Ilustrasi internet of things.

Selain itu, peran pemerintah terkait seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diharapkan dr Kristiana dapat membuat program pencegahan kecanduan interenet pada remaja:

1. Program pencegahan meliputi edukasi masyarakat mengenai penggunaan internet secara sehat dan dampak dari kecanduan internet. Melakukan edukasi terhadap orang tua untuk menggunakan fitur teknologi untuk membatasi penggunaaan internet, mengembangkan media online yang dapat diakses oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi dan bantuan.

2. Deteksi dini kecanduan internet dan masalah emosi/perilaku pada remaja dapat dilakukan secara rutin dan dimasukkan dalam program di sekolah. Deteksi dini dapat dilakukan setiap 6 bulan sekali.

3. Peningkatan aktivitas fisik pada siswa sekolah penting untuk mencegah kecanduan internet.

4. Pelatihan untuk tenaga kesehatan profesional terutama mereka yang bekerja di layanan primer sangat penting sehingga mereka dapat melakukan deteksi dini remaja dengan kecanduan internet.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luhut Sebut Herd Immunity Susah Terwujud, Epidemiolog: Ini Target Jangka Panjang

Luhut Sebut Herd Immunity Susah Terwujud, Epidemiolog: Ini Target Jangka Panjang

Kita
Ibu Terinfeksi Covid-19, Bolehkah Menyusui Bayinya? Ini Kata Dokter

Ibu Terinfeksi Covid-19, Bolehkah Menyusui Bayinya? Ini Kata Dokter

Kita
Agar Indonesia Cepat Keluar dari Pandemi, Ini yang Harus Dilakukan

Agar Indonesia Cepat Keluar dari Pandemi, Ini yang Harus Dilakukan

Kita
Sudah Disetujui Kemenkes, Ini Syarat Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil

Sudah Disetujui Kemenkes, Ini Syarat Vaksin Covid-19 untuk Ibu Hamil

Kita
[POPULER SAINS] Kandungan Sodium di Mi Instan | Indonesia Masuki Puncak Covid-19

[POPULER SAINS] Kandungan Sodium di Mi Instan | Indonesia Masuki Puncak Covid-19

Oh Begitu
Orang yang Alami Reaksi Alergi pada Dosis Pertama Vaksin mRNA, Terbukti Mampu Menoleransi Dosis Kedua

Orang yang Alami Reaksi Alergi pada Dosis Pertama Vaksin mRNA, Terbukti Mampu Menoleransi Dosis Kedua

Oh Begitu
Mengenal Apa Itu mRNA pada Vaksin Pfizer dan Moderna

Mengenal Apa Itu mRNA pada Vaksin Pfizer dan Moderna

Oh Begitu
Bintang Unik Ini Meluncur Keluar dari Galaksi Bima Sakti

Bintang Unik Ini Meluncur Keluar dari Galaksi Bima Sakti

Fenomena
CDC Tunjukkan Kekuatan Vaksin Covid-19 Lindungi dari Infeksi Parah

CDC Tunjukkan Kekuatan Vaksin Covid-19 Lindungi dari Infeksi Parah

Oh Begitu
7 Cara Mencegah Hewan Terinfeksi Covid-19 Menurut KLHK

7 Cara Mencegah Hewan Terinfeksi Covid-19 Menurut KLHK

Oh Begitu
3 Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Ibu Hamil, Jenis dan Efikasinya

3 Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Ibu Hamil, Jenis dan Efikasinya

Oh Begitu
Bukan Cuma Faktor Umur, Ini Alasan Rambut Memutih dan Beruban

Bukan Cuma Faktor Umur, Ini Alasan Rambut Memutih dan Beruban

Kita
Kandungan Sodium dalam Mi Instan Sangat Tinggi, Kenali Risikonya

Kandungan Sodium dalam Mi Instan Sangat Tinggi, Kenali Risikonya

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Gejala Brain Fog pada Long Covid Bisa Menurunkan IQ

Ilmuwan Ungkap Gejala Brain Fog pada Long Covid Bisa Menurunkan IQ

Oh Begitu
Luhut Sebut Kasus Covid-19 Turun 50 Persen, Epidemiolog: Indonesia Baru Masuki Titik Puncak Pandemi

Luhut Sebut Kasus Covid-19 Turun 50 Persen, Epidemiolog: Indonesia Baru Masuki Titik Puncak Pandemi

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X