Cecep Reza Meninggal, Bagaimana Memprediksi Sakit Jantung di Rumah?

Kompas.com - 20/11/2019, 10:55 WIB
Mantan aktor cilik, Cecep Reza, yang dikenal lewat peran Bombom dalam sinetron Bidadari. Instagram/Cecep RezaMantan aktor cilik, Cecep Reza, yang dikenal lewat peran Bombom dalam sinetron Bidadari.

KOMPAS.com - Artis Cecep Reza, yang terkenal sebagai pemeran Bombom di sinteron Bidadari pada tahun 2000, meninggal dunia dalam keadaan tidur di rumahnya, kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (19/11/2019).

Sejauh ini meninggalnya Cecep Reza diduga serangan jantung, karena yang diketahui istrinya (Reta) hanya sedang tidur saja.

Pada berbagai peristiwa lainnya, banyak kematian yang terjadi tanpa diketahui dan itu terkait serangan jantung.

Lantas bagaimana memprediksi penyakit jantung?

Baca juga: Djaduk Ferianto Meninggal, Kapan Seseorang Perlu Pasang Ring Jantung?

Dalam pemberitaan Kompas.com terkait pentingnya melakukan cek tekanan darah di rumah (Ceramah) atau Home Blood Pressure Monitoring (HBPM), Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH), dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH menegaskan, ada banyak penyakit yang merupakan komplikasi dari penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi).

Hal ini disampaikan dokter Tunggul dalam sebuah acara yang menggandeng Omron Healthcare Indonesia di Jakarta, Kamis, (19/9/2019).

Dalam kesempatan tersebut Tunggul mengatakan, Ceramah atau HBPM adalah metode pengukuran tekanan darah yang dilakukan sendiri oleh pasien di rumah atau di tempat lain yang berada di luar klinik medis (out of office).

Dengan memantau tekanan darah mandiri, kita juga dapat memantau potensi kerusakan organ lain, tak terkecuali jantung.

Dijelaskan Tunggul, metode Ceramah dapat menunjukkan penilaian dan pengawasan variabilitas tekanan darah (VTD), salah satu aspek yang bisa digunakan untuk memprediksi stroke dan penyakit jantung (kardiovaskular)

Inilah mengapa Ceramah dapat digunakan untuk memprediksi kejadian kardiovaskular dengan lebih baik dibandingkan dengan pengukuran konvensional di klinik.

Baca juga: Djaduk Ferianto Sempat Mengeluh Kesemutan di Tubuh, Apa yang Terjadi?

Risiko tinggi terhadap kejadian kardiovaskular meningkat ketika rata-rata pengukuran tekanan darah di rumah pada pagi dan malam hari menunjukkan tekanan darah sistolik di atas 145 mmHg dan jika tekanan darah sistolik di klinik di atas 150 mmHg.

Pasien dengan tekanan darah sistolik yang tinggi di pagi hari memiliki risiko kejadian kardiovaskular yang tinggi meskipun tekanan darah di klinik normal.

"Makanya banyak yang meninggal karena serangan jantung atau karena stroke itu pagi hari atau malam hari, karena gelombang tekanan darah lagi tinggi," tutur Tunggul.

Studi lainnya menyatakan, tekanan darah sistolik di atas 155 mmHg seringkali berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit koroner arteri hingga enam kali lipat.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat dibanding Rapid Test

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat dibanding Rapid Test

Oh Begitu
Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Oh Begitu
Kemoterapi Pasien Kanker yang Kena Covid-19 Tidak Berisiko Kematian

Kemoterapi Pasien Kanker yang Kena Covid-19 Tidak Berisiko Kematian

Oh Begitu
Lolos dari Maut, Kumbang Ini Bertahan Hidup meski Telah Dimakan Katak

Lolos dari Maut, Kumbang Ini Bertahan Hidup meski Telah Dimakan Katak

Oh Begitu
Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Oh Begitu
Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Oh Begitu
Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Oh Begitu
Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Oh Begitu
Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Fenomena
Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Oh Begitu
Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Fenomena
Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Oh Begitu
AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

Oh Begitu
Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Oh Begitu
Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X