Kecelakaan Grabwheels di Jakarta, Ahli AS Tawarkan Solusinya

Kompas.com - 14/11/2019, 19:34 WIB
Sejumlah skuter listrik Grab Wheels diparkirkan di salah satu lokasi parkir GrabWheels di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2019). KOMPAS.com/HILEL HODAWYASejumlah skuter listrik Grab Wheels diparkirkan di salah satu lokasi parkir GrabWheels di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2019).

Oleh Jim Sallis


Skuter listrik bermunculan di banyak kota besar di beberapa negara. Fasilitas tersebut memberi kebahagiaan bagi pengendara, keuntungan bagi pembuat skuter. Namun di sisi lain, skuter listrik juga membawa banyak potensi risiko bagi pejalan kaki dan pengendara.

San Diego, Amerika Serikat, tempat saya tinggal, termasuk kota yang berada garis depan dalam pertumbuhan kendaraan listrik, dan sebagai peneliti aktivitas fisik, saya tertarik mengamati hal ini.

Baru-baru ini, ketika saya sedang berjalan-jalan di trotoar, beberapa skuter listrik melintas. Saya melihat ketika seorang gadis berjalan di trotoar, saat itu pula sebuah skuter listrik melintas, saya tahu bahwa skuter itu tidak akan berhenti tepat waktu.

Untungnya, perempuan yang mengendarai skuter mampu bertindak cepat. Alih-alih menabrak gadis itu dengan kecepatan penuh, dia jatuh dengan skuternya dan tergelincir sampai berhenti. Ada kecelakaan dan cedera kecil pada pengendara, tapi tragedi berhasil dihindari.

Baru saja insiden serupa terjadi di Jakarta. Dua orang yang mengendarai skuter listrik GrabWheels tewas tertabrak mobil saat melintas di Senayan, Jakarta, Senin dini hari.

Saya menganggap peristiwa ini sebagai peringatan tentang bahaya yang ditimbulkan oleh kendaraan listrik di jalan. Pencarian secara online akan mengungkapkan banyaknya laporan kecelakaan yang melibatkan kendaraan listrik.

Seorang perempuan di Dallas, Amerika Serikat harus berada di ruang gawat darurat akibat cedera pada 9 Juli, dan pejabat di Nashville, kota lain di Amerika Serikat kini sedang mempertimbangkan undang-undang untuk perlunya registrasi skuter.

Beberapa masalah muncul dari moda transportasi baru ini, termasuk apakah pengendara harus mengenakan helm dan apakah kendaraan ini diizinkan di trotoar. Dan, haruskah pengemudi diizinkan untuk menggunakannya saat berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan?

Saya ingin memperingatkan para pemimpin pemerintahan daerah, perusahaan terkait skuter listrik, dan pengguna trotoar, tentang tiga cara skuter listrik dapat membahayakan kesehatan.

Bagaimana kendaraan listrik dapat membahayakan kesehatan

Sudahkah kendaraan ini datang ke daerah Anda? Mereka akan datang. Sebuah perusahaan riset pasar memperkirakan skuter listrik akan tumbuh di pasar global dari US$14 miliar pada tahun 2014 menjadi $37 miliar pada 2024.

Bird dan Lime, dua perusahaan skuter terbesar yang berbasis di California, Amerika Serikat telah memasarkan skuter di hampir 30 kota di Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir. Mereka menyewakannya untuk pengendara yang mencari sensasi berbeda atau alternatif untuk ride-sharing.

Ada banyak variasi kendaraan listrik. Ada yang beroda satu, dua, tiga, dan empat. Tapi mereka memiliki satu kekurangan besar. Mereka semua melaju terlalu cepat. Skuter melaju 24 kilometer per jam, sementara papan luncur listrik, sepeda motor mini, dan kendaraan roda satu, dapat melaju lebih cepat.

Masalahnya adalah pejalan kaki berjalan 5 kilometer per jam, atau bahkan lebih lambat. Ini berarti skuter melaju empat kali lebih cepat. Jika ada jalan yang kosong, para pengendara ini akan melaju dengan kecepatan penuh, karena di situlah kesenangan dan sensasi muncul.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X