Kenapa Kita Makan Lebih Banyak saat Bersama Orang Lain? Sains Jelaskan

Kompas.com - 14/11/2019, 12:32 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Sebagian besar orang yang pernah tinggal di asrama mengaku, makan bersama teman membuat jadi lebih lahap menyantap makanan. Tak jarang, porsi makan yang dihabiskan lebih banyak dari biasanya.

Hal ini sebenarnya tak hanya dialami mereka yang tinggal di asrama. Orang yang memiliki kebiasaan makan bersama orang lain, entah keluarga atau teman, bakal makan lebih banyak dari biasanya.

Tak jelas apa yang mengakibatkan ini terjadi. Namun studi teranyar yang terbit di The American Journal of Clinical Nutrition mengatakan, fenomena makan lebih banyak saat dilakukan bersama keluarga atau teman disebut "fasilitasi sosial".

Baca juga: Beruk Ternyata Suka Makan Tikus, Bisa Jadi Agen Pengendali Hama

Dr. Helen Ruddock dari University of Birmingham yang memimpin studi ini telah meninjau lebih dari 40 studi yang menggunakan pendekatan eksperimental dan non-eksperimental untuk memeriksa asupan makanan.

Ulasan tersebut mengkonfirmasi hipotesis peneliti, yakni kita makan lebih banyak saat bersama teman atau keluarga, tapi cenderung mengubah cara makan saat bersama orang asing.

Ini pun mengkonfirmasi riset sebelumnya yang mengungkap, seseorang akan makan dengan porsi sebesar 28 persen saat sendirian dan meningkat jadi 49 persen saat makan dengan orang lain.

Namun, ada banyak faktor sosial yang juga terlibat, seperti jenis kelamin, obesitas, dan tingkat keakraban dengan orang lain.

"Kami menemukan bukti kuat, orang akan makan lebih banyak saat bersama teman dan keluarga dibanding sendirian. Fenomena ini disebut fasilitasi sosial," ujar Ruddock dalam siaran pers, seperti di lansir Mother Nature Network (11/11/2019).

"Tapi fasilitasi sosial tak terlihat pada ketika seseorang makan dengan orang asing," imbuh dia.

Ruddock menduga, hal itu mungkin karena orang ingin menampilkan kesan positif ketika makan dengan orang asing. Karena itulah, mereka lebih memilih makan dalam porsi kecil.

Baca juga: Mirip Kita, Manusia Gua di Israel Juga Suka Makan Sumsum Tulang Hewan

Makanan adalah subjek sarat makna. Pasalnya, makan sedikit atau banyak tetap dapat menimbulkan stigma sosial.

Ruddock dan timnya percaya, perilaku ini normal dan dialami semua orang. Mungkin ini juga dilakukan oleh nenek moyang kita yang masih hidup dengan cara pemburu dan pengepul di masa lalu.

Ribuan tahun lalu, ketika panen besar orang-orang akan berbagi makanan dengan tetangganya. Ini merupakan salah satu upaya untuk memperkuat ikatan sosial.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X