Kompas.com - 09/11/2019, 19:04 WIB
Regolith atau lapisan atas batu dan tanah Bulan yang di ambil astronot pada misi Apollo 1972. (Dave Edey and Romy Hanna/UTCT, UT Austin/NASA)Regolith atau lapisan atas batu dan tanah Bulan yang di ambil astronot pada misi Apollo 1972.

KOMPAS.com - Untuk kali pertama, para ilmuwan NASA akhirnya membuka sampel materi Bulan yang dikumpulkan dari misi Apollo sekitar 40 tahun lalu.

Sampel berupa regolith atau lapisan atas batu dan tanah Bulan ini dapat memberikan wawasan baru mengenai benda langit terdekat dengan Bumi ini.

Sampel yang disebut sampel 73002 ini dibuka pada Selasa (5/11/2019).

Sampel dikumpulkan oleh astronot Apollo 17, Gene Cernan dan Jack Schmitt pada Desember 1972. Sampel itu kemudian mereka simpan dalam tabung berukuran 4 sentimeter yang diisi dengan nitrogen kering ultra-murni untuk menghindari kontaminasi dari udara terbuka.

Baca juga: Wahana China Sukses Tumbuhkan Tanaman Kapas di Bulan

NASA sengaja menyimpan sampel tersebut begitu lama dan memilih untuk mengalisisnya sekarang dengan alasan teknologi. Para ilmuwan saat ini tentu memiliki akses, alat serta teknik yang tak tersedia pada tahun 1970-an.

"Menjadi orang yang membuka sampel yang belum pernah dibuka sejak diambil dari Bulan merupakan suatu kehormatan dan tanggung jawab yang berat," tutur Charis Krysher, salah satu ilmuwan yang membuka sampel 73002.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami pun dapat melakukan pengukuran hari ini yang tak mungkin dilakukan di awal program Apollo," tambah Sarah Noble, ahli geologi planet dari program NASA Apollo Next-Generation Sample Analysis (ANGSA).

Pada sampel, ilmuwan melakukan teknik-teknik seperti pencitraan 3D non destruktif, spektrometri massa, dan mikrotomi resolusi sangat tinggi atau memotong sampel menjadi irisan ultra tipis. Teknik-teknik tersebut membuat materi-materi dari Bulan ini bisa dipelajari dengan lebih detail.

Selanjutnya, regolith tersebut akan didistribusikan ke berbagai tim ilmuwan di NASA.

Baca juga: India Sudah Sampai Bulan, Akankah Indonesia Menyusul?

Noble menuturkan, analisis sampel tersebut akan memaksimalkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari misi Apollo. Selain itu juga memungkinkan generasi baru untuk mempersiapkan misi Bulan di masa depan, seperti membantu mengarahkan astronot ke titik-titik lain di Bulan yang layak diselidiki lebih lanjut.

Menurut NASA, regolith dapat memberikan petunjuk lokasi endapan es kutub di Bulan yang menjelaskan bagaimana kerak Bulan berevolusi dari waktu ke waktu. Hal ini membantu ilmuwan lebih memahami bagaimana tanah longsor terjadi di permukaan Bulan.

Lebih lanjut lagi, memeriksa sampel yang diambil beberapa dekade lalu ini dapat memberikan petunjuk kepada ilmuwan tentang cara meningkatkan kualitas alat pengumpul batu yang akan dipasang pada pesawat luar angkasa pada misi Artemis.

NASA sendiri saat ini memang tengah bersiap mengirim kembali astronot ke Bulan sekitar tahun 2024. Para astronot itu akan mengumpulkan lagi sampel saat berkeliling di permukaan Bulan. Perjalanan tersebut sekaligus akan menjelaskan berbagai pertanyaan yang terungkap dari sampel 73002.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X