BMKG: Kondisi Musim Hujan dan Kemarau Cenderung Normal Tahun 2020

Kompas.com - 01/11/2019, 12:31 WIB
Ilustrasi hujan kulkannIlustrasi hujan

KOMPAS.com - Kemunduran musim hujan dan panjangnya periode musim kemarau di tahun 2019 ini menjadi kegelisahan masyarakat Indonesia.

Lantas apakah tahun 2020, Indonesia akan mengalami kondisi yang sama?

Menjawab pertanyaan tersebut, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa musim hujan dan musim kemarau 2020 diprediksi akan normal.

Periode Musim Hujan (November 2019 – Maret 2020) masih sesuai dengan normalnya (klimatologi 1981-2010). Namun, dapat lebih basah dibandingkan tahun 2019, khususnya Sumatera dan Kalimantan bagian utara.

Baca juga: BMKG: Waspada Hujan Lebat dan Angin di Indonesia, termasuk Jawa

"Puncak Musim Hujan diprediksikan pada Januari-Februari 2020," kata Dwikorita di Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Sementara, awal musim kemarau yang diperkirakan mirip dengan normalnya, yaitu sekitar April - Mei 2020, dan berlangsung hingga Oktober.

Meskipun demikian, tetap harus waspada akan adanya peluang bencana Hidrometeorologi, karena prediksi hujan untuk sepanjang tahun 2020 cenderung mempunyai pola yang sama dengan normal (klimatologisnya).

"Peluang terjadinya bencana hidrometeorologis tetap perlu diwaspadai meskipun diprediksi berkurang jumlah kejadian maupun kekuatannya pada kondisi iklim yang normal," ujarnya.

Bencana hidrometeorologis itu sendiri seperti siklon tropis, hujan ekstrim, puting beliung, angin kencang, gelombang ekstrim, dan kekeringan iklim.

Dwikorita juga menjelaskan bahwa dengan memperhatikan pemutakhiran prediksi saat ini yang terkait prospek curah hujan cenderung normal sesuai klimatologisnya, serta tidak adanya ancaman potensi anomali iklim global.

"Multi pihak mitra kerja BMKG dan juga masyarakat umum secara luas hendaknya dapat memanfaatkan informasi iklim ini untuk perencanaan jangka pendek tahun 2020," ujar dia.

Baca juga: BMKG: Waspada Hujan Lebat hingga Petir di Beberapa Wilayah Indonesia

Pemenuhan dan penyimpanan cadangan air pada waduk-waduk, embung-embung, kolam retensi, sistem polder dapat dilakukan lebih dini pada saat puncak musim hujan hingga peralihan musim.

Sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kebutuhan pertanian.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X