Pesawat Rahasia AS Kembali ke Bumi Setelah 780 Hari di Luar Angkasa

Kompas.com - 30/10/2019, 17:06 WIB
Pesawat rahasia Amerika Serikat, X-37B, mendarat setelah 780 hari di luar angkasa. Air ForcePesawat rahasia Amerika Serikat, X-37B, mendarat setelah 780 hari di luar angkasa.

KOMPAS.com - Pesawat luar angkasa tanpa pilot milik Amerika Serikat X-37B mendarat dengan selamat ke Bumi setelah mengorbit di luar angkasa selama 780 hari, terlama dalam sejarah.

Pertama kali diluncurkan pada 7 September 2017, pesawat ini mendarat pada Minggu (27/10/2019) di Kennedy Space Center NASA di Florida, AS, setelah menyelesaikan misi durasi panjang kelimanya.

Dilansir dari Science Alert, Selasa (29/10/2019); pesawat ini awalnya dirancang untuk mengorbit hanya selama 270 hari. Namun, kini ia telah terbang selama 2.800 hari.

Sejak awal diketahui publik, pesawat X-37B tidak pernah lepas dari kontroversi. Pasalnya, tidak ada yang mengetahui apa yang dilakukan pesawat itu selama mengorbit.

Angkatan Udara AS menyebutkan bahwa pesawat itu melaksanakan "pengurangan risiko, eksperimen dan konsep operasi" untuk teknologi wahana antariksa yang bisa digunakan kembali.

Baca juga: Tim Fisikawan Indonesia Ungkap Rahasia 140 Tahun dalam Elektronika

Direktur Kapabilitas Angkatan Udara Randy Walden juga mengungkapkan bahwa X-37B telah melaksanakan banyak misi, termasuk menjadi wadah untuk eksperimen-eksperimen laboratorium penelitian Angkatan Udara dan membantu mengirimkan satelit kecil ke luar angkasa.

Namun, pernyataan Walden ini menimbulkan keprihatinan di antara para ahli.

Astronom Harvard-Smithsonian for Astrophysics, Jonathan McDowell, menulis di Twitter bahwa pelepasan satelit oleh X-37B tanpa izin dan ini bisa jadi kali pertama Amerika Serikat terang-terangan melanggar perjanjian.

Untuk diketahui, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki Daftar Benda yang Diluncurkan ke Luar Angkasa sejak 1962 untuk pertanggungjawaban negara yang meluncurkan obyek ke luar angkasa.

Baca juga: Rahasia Alam Semesta: Perbedaan Asteroid, Komet, dan Meteor

Dalam risetnya, McDowell mencatat bahwa 90 persen satelit masuk ke daftar setelah satu atau dua tahun diluncurkan. Namun, tidak semua satelit yang mengorbit terdaftar dan memiliki izin dari PBB. Dari yang tidak terdaftar ini, sepertiganya milik Amerika Serikat.

McDowell mengakui bahwa ada kemungkinan bahwa pemerintah Amerika Serikat sekadar belum sempat mendaftarkan satelit-satelitnya, tetapi menurut dia kemungkinannya kecil.

“Rahasia terbesar (bahkan TS/SCI milik Departemen Pertahanan) tidak mengalahkan hukum dan perjanjian internasional,” tuturnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X