Unsur Hara Meningkat, Waspadai Ledakan Alga Berbahaya di Teluk Ambon

Kompas.com - 27/10/2019, 20:07 WIB
Peserta lomba perahu belang sedang beradu cepat di Teluk Ambon, Maluku, Senin (28/9/2015). Lomba perahu belang ini dalam rangka meramaikan Pesta Teluk Ambon 2015. KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYPeserta lomba perahu belang sedang beradu cepat di Teluk Ambon, Maluku, Senin (28/9/2015). Lomba perahu belang ini dalam rangka meramaikan Pesta Teluk Ambon 2015.

KOMPAS.com - Adanya peningkatan unsur hara atau eutrofikasi berpotensi menjadi pemicu meledaknya populasi alga berbahaya (harmful blooming algae/HABs).

Eutrofikasi merupakan suatu peningkatan unsur hara ke level yang sangat tinggi, dan melampaui batas yang dapat diterima oleh alam.

Profesor riset dari Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sam Wouthuyzen, menjelaskan bahwa akibat adanya eutrofikasi dapat menimbulkan beberapa kejadian marak alga dari jenis mikroalga berbahaya.

“Antara lain Pyrodinium bahamense var. compressum dan Gymnodinium bahamense, yang menyebabkan kematian pada manusia,” kata Sam di acara Talkshow Indonesia Science Expo, di ICE BSD, Serpong, (24/10/2019).

Baca juga: Kok Bisa Alga di Danau Ini Tumbuh Seluas 250.000 Lapangan Sepak Bola?

Ada dua penyebab eutrofikasi dapat terjadi. Pertama, terjadi peningkatan jumlah penduduk. Kedua, pembukaan lahan yang cepat namun tidak tertata baik dan tidak ramah lingkungan.

Ditambahkan oleh Peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Hanung Agus Mulyadi, penyebab eutrofikasi tersebut juga terjadi karena keterlambatan sirkulasi massa air.

Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan kedalaman penghubung yang relatif sempit dan dangkal, serta kondisi pasang surut harian ganda campuran yang terjadi di air laut.

“Terjadi dua kali pasang dan dua kali surut secara simultan selama 24 jam. Kondisi semacam ini berdampak terjadinya penumpukan materi di dasar perairan yang diiringi dengan peningkatan unsur hara,” ucap Hanung.

Populasi Alga di Teluk Ambon

Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Nugroho Dwi Hananto, menyampaikan bahwa populasi alga yang tidak kasat mata ini dapat mempengaruhi berbagai aspek.

“Populasi alga yang tidak kasat mata ini dapat mempengaruhi aspek: ekonomi dan kehidupan masyarakat di ekosistem khususnya Teluk Ambon,” katanya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X