Pakar Menjelaskan, Mengapa Gunung Tidak Terus Tumbuh ke Angkasa?

Kompas.com - 20/10/2019, 12:05 WIB
Pendaki berjalan menuju puncak Everest, Nepal, pada 22 Mei 2019. (REUTERS/Phurba Tenjing Sherpa) STRINGERPendaki berjalan menuju puncak Everest, Nepal, pada 22 Mei 2019. (REUTERS/Phurba Tenjing Sherpa)

KOMPAS.com – Bayangkan kita hidup pada tempat di mana gunung bisa tumbuh dengan sangat tinggi hingga menembus atmosfer.

Namun faktanya, gunung di Bumi tidak bisa lebih tinggi daripada Everest yang puncaknya terletak pada ketinggian 8.840 mdpl.

Apa yang membuat gunung berhenti tumbuh?

Gravitasi

Profesor dari Department of Geology and Environmental Science di University of Pittsburgh, Nadine McQuarrie, mengatakan ada dua faktor utama yang menjadi penyebabnya.

“Faktor pertama adalah gravitasi. Banyak gunung yang terbentuk karena pergerakan permukaan tanah yang disebut dengan lempeng tektonik. Ketika dua lempeng beradu, irisannya akan naik ke atas. Itulah bagaimana deretan Pegunungan Himalaya di Asia, termasuk Everest, terbentuk,” tutur Nadine seperti dikutip dari Live Science, Minggu (20/10/2019).

Lempeng tersebut terus mendesak ke atas dan gunung tetap akan tumbuh, hingga pada satu titik di mana gunung tertekan oleh gravitasi bumi. Pada satu titik, gunung menjadi sangat berat sehingga berhenti tumbuh ke atas.

Baca juga: Kenapa Ratusan Pendaki Tewas di Zona Kematian Menuju Puncak Everest?

Namun selain karena lempeng tektonik, gunung juga bisa tumbuh karena hal lain. Pegunungan vulkanis seperti yang ada di Kepulauan Hawaii misalnya, terbentuk dari gunung berapi bawah tanah yang meletus.

“Tapi bagaimanapun cara gunung terbentuk, pasti akan terbentur oleh gravitasi,” lanjut Nadine.

Dengan kata lain, jika Bumi memiliki gravitasi yang sedikit, gunung akan tumbuh lebih tinggi. Hal itulah yang terjadi pada Planet Mars, di mana gunung tumbuh lebih tinggi dibandingkan di Bumi.

Baca juga: Kenapa Terjebak Antrean di Puncak Everest Bisa Bikin Meninggal?

Gunung Olympus Mons di Mars menjulang setinggi 25.000 meter dari permukaan tanah. Hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan Gunung Everest.

Seorang pendaki dan tendanya dengan latar belakang Segara Anak di Gunung Rinjani.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Seorang pendaki dan tendanya dengan latar belakang Segara Anak di Gunung Rinjani.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X