Persiapan Olimpiade 2020, Jepang Impor Virus Ebola, Untuk Apa?

Kompas.com - 17/10/2019, 07:03 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Pada bulan lalu, Jepang mengimpor Ebola dan empat virus berbahaya lainnya untuk menghadapi ribuan turis internasional yang berkunjung ke Tokyo untuk Olimpiade tahun depan.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan, para peneliti menggunakan sampel yang meliputi virus Marburg, virus Lassa dan virus yang menyebabkan demam berdarah di Amerika Selatan dan di Krimea-Kongo untuk memvalidasi tes yang sedang dikembangkan.

Tes tersebut akan menilai apakah pasien dengan salah satu virus tersebut masih bisa menular serta mengukur apakah pasien bisa menghasilkan antibodi untuk menetralisir virus.

Pengembangan tes ini nantinya akan meningkatkan kesiapan Jepang untuk peristiwa semacam serangan bioterror.

Baca juga: Demi Kurangi Emisi Karbon, Jepang Perbanyak Penggunaan Energi Nuklir

Virus-virus ini juga menandai kali pertama virus yang diberi peringkat biosafety-level-4 (BSL-4), peringkat paling berbahaya, diizinkan untuk memasuki Institut Penyakit Menular Nasional Jepang (NIID), satu-satunya fasilitas negara yang beroperasi pada tingkat tersebut.

Para ilmuwan penyakit menular memang telah mengatakan bahwa risiko wabah selama olimpiade berlangsung tidak jauh lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.

Elke Mühlberger, seorang ahli mikrobiologi di Boston University, misalnya, berpendapat bahwa wabah besar ebola di Olimpiade tidak mungkin terjadi karena infeksinya tidak ditularkan melalui udara. Namun, rencana Jepang untuk menilai tes NIID sebelum Olimpiade dimulai masuk akal, mengingat Ebola sekarang sedang mewabah di Republik Demokratik Kongo.

Selain itu, komunitas ilmu medis Jepang jugamenyambut dengan baik langkah ini. Menurut mereka, momen ini akan meningkatkan kapasitas negara dalam menangani penyakit menular secara umum.

Baca juga: Jepang Sukses Meledakkan Bom ke Asteroid Ryugu, Misi Lain Menanti

Sayangnya, tidak semua orang senang akan hal ini. Beberapa warga setempat mengatakan bahwa para ilmuwan hanya memakai alasan olimpiade untuk mengimpor virus.

Dan Richard Ebright, seorang ahli biologi molekuler dan spesialis biosekuriti di Rutgers University di Piscataway, New Jersey, juga sependapat.

Dia berkata bahwa laboratorium BSL-4 dapat dipersiapkan untuk menangani wabah berbahaya tanpa perlu membawa virus ke Jepang lebih dahulu. Menyimpan virus berbahaya, bahkan di laboratorium yang sangat aman pun, meningkatkan risiko pelepasan virus, baik disengaja maupun tidak sengaja.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Sumber Nature
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X