Anda Berjalan Lamban? Waspada Rentan Sakit di Masa Tua

Kompas.com - 14/10/2019, 17:03 WIB
Ilustrasi berjalan di tangga spukkatoIlustrasi berjalan di tangga

KOMPAS.com – Penelitian membuktikan bahwa berjalan dalam tempo lamban ada kaitannya dengan risiko rentan sakit pada masa tua.

Bahkan, jika berjalan lamban, risiko Anda untuk terkena penyakit seperti Alzheimer lebih besar dibanding orang yang berjalan dengan tempo cepat.

Penelitian ini dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari Duke University.

Para peneliti menemukan orang berusia 45 tahun yang berjalan lamban memiliki otak dan badan yang “lebih cepat tua”. Paru-paru, gigi, dan sistem imun mereka “berada dalam kondisi yang lebih buruk” dibanding dibanding orang yang berjalan dalam tempo cepat.

Baca juga: Hal yang Terjadi pada Tubuh Saat Berjalan Kaki

Tak hanya itu, orang yang berjalan lamban memiliki volume otak yang lebih rendah dan area permukaan otak yang lebih sedikit. Hal itu menjadi indikasi seseorang telah menua.

“Masalahnya adalah hal itu terjadi pada orang berusia 45 tahun. Bukan seseorang yang sudah tua dan indikasi tua yang sebenarnya,” tutur kepala peneliti Line JH Rasmussen seperti dikutip dari The Independent, Senin (14/10/2019).

Ilustrasi berjalanwarrengoldswain Ilustrasi berjalan

Sejak usia 3 tahun

Para peneliti mengatakan bahwa mereka bisa memprediksi secepat apa kita berjalan, hanya berdasarkan pengamatan terhadap otak pada usia tiga tahun.

Hal itu bisa dilihat dari IQ, kemampuan untuk mengerti bahasa, kemampuan bergerak, dan control emosi. Semua hal itu bisa memprediksi secepat apa kita berjalan kaki pada usia 45 tahun.

Baca juga: Berjalan Kaki Sama Sehatnya dengan Berlari

Para peneliti percaya bahwa kemampuan berjalan bergantung pada sistem organ. Mereka juga percaya bahwa fungsi kognitif seperti ingatan dan kecepatan berjalan adalah hal yang bersinggungan.

“Kecepatan berjalan seseorang bisa dilihat dari semua sistem tubuhnya yang berjalan beriringan. Penurunan kecepatan berjalan merupakan tanda-tanda penuaan dan penurunan fungsi organ-organ pada tubuh,” tutur peneliti Terrie E Moffitt dari Duke University.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X