Tanggapan Ahli soal Potensi Penyebaran Penyakit Pasca-Tsunami Besar

Kompas.com - 04/10/2019, 12:17 WIB
Foto dirilis Sabtu (28/9/2019), memperlihatkan kawasan Pelabuhan Rakyat yang terdampak tsunami di Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah. KM Sabuk Nusantara IV yang terhempas ke darat saat bencana tahun lalu kini sudah diturunkan kembali ke laut. ANTARA FOTO/BASRIi MARZUKIFoto dirilis Sabtu (28/9/2019), memperlihatkan kawasan Pelabuhan Rakyat yang terdampak tsunami di Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah. KM Sabuk Nusantara IV yang terhempas ke darat saat bencana tahun lalu kini sudah diturunkan kembali ke laut.

KOMPAS.com- Hasil dari kajian penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam mBio menunjukkan adanya potensi penyebaran penyakit, seperti pasca- tsunami besar 1964 di Alaska, melanda kawasan yang disapu tsunami seperti Indonesia.

Meski masih bersifat potensi, namun hal ini menjadi kekhawatiran para ilmuwan di seluruh dunia. Tak terkecuali ahli tsunami Indonesia sekaligus perekayasa BPPT, Widjo Kongko.

Widjo menjelaskan kepada Kompas.com, Kamis (3/10/2019) bahwa tsunami besar tidak hanya merusak secara langsung dan masif ke wilayah yang dihantam gelombang tsunami tersebut, tetapi juga ke wilayah lain.

"Ia (tsunami besar) berpotensi menyebarkan wabah penyakit terhadap manusia atau hewan termasuk migrasi flora atau fauna," kata Widjo.

Baca juga: Pernah Disapu Tsunami, Pakar Khawatir Wabah Jamur Mematikan Serang Indonesia

Pasalnya, tsunami besar bersifat trans-oceanic, di mana debris atau sampah-sampah yang ada bisa terbawa gelombang melewati samudera hingga mencapai wilayah lain.

Tsunami yang terjadi pada 2011 di Tohoku, Jepang, misalnya, berdampak sampai Jayapura melalui Samudra Pasifik.

 

Bahkan, kata Widjo, debris tsunami tersebut terbawa sampai ke pantai Hawaii dan Amerika Utara dalam waktu satu tahun.

Hal yang sama mungkin juga terjadi dengan tsunami tahun 2004 di Aceh, Indonesia. Pada saat itu, jarak genangan atau inundasi tsunami mencapai lebih dari 80 kilometer persegi.

Widjo mengatakan, pada dasarnya penelitian ini (mBio) baru menyampaikan potensi sebaran penyakit yang dibawa oleh tsunami di daerah rendaman yang terjangkau.

Secara sederhananya, Widjo mencontohkan, misal ada sumber penyakit dari jamur atau hama tumbuhan di Banda Aceh, lalu terjadilah tsunami besar seperti tahun 2004, di mana debrisnya sampai ke Pulau Madagaskar, Afrika.

Baca juga: BMKG Bangun Infrastruktur Radar Gempa dan Tsunami di Selatan Jawa

"Maka di daerah tersebut berpotensi terjangkiti (penyakit atau wabah tadi)," tuturnya.

Begitupun sebaliknya, jika terjadi kiriman tsunami yang jauh bersumber dari Pasifik atau Hindia dan lainnya ke Indonesia, maka perlu dilakukan pemantauan terhadap daerah di sekitar pantai-pantai yang terdampak itu.

"Karena ada potensi tsunami kiriman tersebut membawa debris atau juga penyakit dan hama dari daerah lain itu," ucapnya.

Maka dari itulah, Widjo berharap para stakeholder atau instansi yang memiliki otoritas pengendalian penyebaran penyakit dan migrasi flora atau fauna untuk segera belajar dan mencari antisipasi terkait dengan potensi penyebaran ini.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X