Kompas.com - 02/10/2019, 09:13 WIB
Personel pemadam kebakaran berupaya memadamkan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jalan Tjilik Riwut Km 10, Patuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (29/9/2019). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPersonel pemadam kebakaran berupaya memadamkan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jalan Tjilik Riwut Km 10, Patuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (29/9/2019).

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beserta pihak terkait lain terus mengumpulkan informasi iklim untuk mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasar prediksi dan prakiraan iklim, BMKG mengelompokkan dua wilayah yang sering kali mengalami karhutla adalah Kalimantan dan Sumatera.

Deputi Klimatologi BMKG Drs Herizal MSi mengatakan, bencana karhutla muncul bukan hanya karena di daerah tersebut ada hutan dan lahan, tapi juga dipengaruhi oleh iklim.

Harizal menjelaskan, kedua wilayah tersebut umumnya memiliki kadar iklim yang relatif sama pada musim kemarau.

Baca juga: Minyak Kelapa Sawit dan Karhutla di Indonesia, Apa Hubungannya?

Sumatera dan Kalimantan mengalai musim kemarau dengan suhu panas yang cukup tinggi. Berikut penjelasan terkait iklim dari kedua wilayah tersebut:

Sumatera

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagian besar wilayah Sumatera memiliki dua periode musim kemarau.

"Biasanya pada Januari, Februari sudah mulai periode pertama (kemarau) dengan panas yang cukup tinggi. Mulai lagi Juni, Juli, Agustus biasanya kemarau besar," kata Herizal.

Saat terjadi kemarau besar, Juni-Agustus, potensi Karhutla rentan terjadi. Ini karena, iklim kemarau besar membuat hutan dan lahan gambut kering, sehingga mudah terbakar ketika ada api yang muncul karena ulah manusia.

Kalimantan

Agak sedikit berbeda dengan pulau Sumatera, hampir seluruh wilayah Kalimantan mengalami musim kemarau besar pada periode Juni, Juli, Agustus.

"Kalau untuk Januari dan Februari, (kemarau di Kalimantan) tidak seperti di Sumatera. Kalimantan justru relatif normal, kecil hingga tidak ada kemarau yang kering sekali dibandingkan Sumatera," ujar Herizal.

Baca juga: Usai Turun Hujan di Wilayah Karhutla, Kualitas Udara Mulai Membaik

Titik panas meningkat setiap kemarau

Meski ada sedikit perbedaan, kedua wilayah tersebut memiliki potensi besar mengalami peningkatan titik panas secara signifikan, setiap memasuki musim kemarau.

Bahkan dari catatan BMKG, ketika terjadi kemarau panjang pada 2015, tercatat ada 8.596 titik panas di Palangkaraya dan 6.406 titik panas di Jambi pada periode Agustus hingga Oktober.

"Kalau untuk periode tahun 2019 ini, kita belum mengambil total keseluruhan titik hotspot yang ada. Karena potensi terjadinya bertambah titik panas dan titik api masih bisa terjadi. Ya sebab potensi musim hujan massive (intens) diprakirakan November nanti," tuturnya.

Sebagai catatan, karena musim kemarau selalu terjadi setiap tahun maka perlu ada upaya nyata dalam pencegahan karhutla oleh berbagai sektor dan institusi. Hal ini untuk melawan tragedi karhutla berkelanjutan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X