Usai Turun Hujan di Wilayah Karhutla, Kualitas Udara Mulai Membaik

Kompas.com - 29/09/2019, 19:06 WIB
Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rasio Ridho Sani mengungkapkan, terhitung sejak 2015, pemerintah menggugat perdata 17 perusahaan terkait karhutla dan sembilan di antaranya sudah inkracht atau berkekuatan hukum tetap. Nilai gugatan dan ganti rugi mencapai Rp3,9 triliun.

Namun, hingga kini, pemerintah baru menerima Rp79 miliar dari kompensasi yang harus dibayarkan perusahaan akibat karhutla di lahan mereka. Anton Raharjo/Anadolu Agency via Getty ImagesDirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rasio Ridho Sani mengungkapkan, terhitung sejak 2015, pemerintah menggugat perdata 17 perusahaan terkait karhutla dan sembilan di antaranya sudah inkracht atau berkekuatan hukum tetap. Nilai gugatan dan ganti rugi mencapai Rp3,9 triliun. Namun, hingga kini, pemerintah baru menerima Rp79 miliar dari kompensasi yang harus dibayarkan perusahaan akibat karhutla di lahan mereka.

KOMPAS.com – Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) cukup membantu menurunkan jumlah titik panas dan konsentrasi debu polutan.

Data dari Bidang Klimatologi BMKG menyebutkan bahwa Jambi dan Riau sudah mendapatkan 1-5 hari hujan. Sementara Kalimantan Barat dan Tengah baru turun hujan dalam beberapa hari terakhir.

Kemarin, Sabtu (28/9/2019), Stasiun BMKG Jambi mencatat curah hujan 11 mm/hari. Sedangkan di Stasiun Juwata, Kalimantan, hujan tercatat 19 mm/hari.

Di Jawa, beberapa wilayah yang selama ini dilanda kekeringan juga sudah merasakan hujan seperti di Semarang dan daerah selatan Jawa Barat. Meskipun belum secara iklim dikatakan memasuki awal musim hujan.

Baca juga: Peneliti LIPI: Karhutla di Sumatera dan Kalimantan Buatan Manusia

Hujan diakibatkan oleh faktor alam dan buatan. Faktor alam karena bertambahnya suplai massa uap air dan kelembapan udara menuju masa transisi musim. Faktor buatan karena kegiatan penyemaian awan, atau istilah teknisnya modifikasi cuaca hujan buatan.

Dalam hal kegiatan hujan buatan tersebut, BMKG menyediakan data dan informasi kondisi cuaca yang digunakan sebagai dasar dan syarat penyemaian awan dengan inti kondensasi berupa garam dari pesawat.

Berdasarkan informasi terkini kondisi atmosfer dan prediksi potensi lokasi tumbuhnya awan hujan, Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT telah melaksanakan penyemaian awan di Riau. Kemudian berlanjut di beberapa wilayah lain seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Baca juga: Selain Manusia, Orangutan juga Terkena ISPA Gara-gara Karhutla

Hasil monitoring jumlah hotspot di Sumatera dan Kalimantan selama dilaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca, jumlah hotspot menurun drastis jika sehari sebelumnya terjadi hujan dengan skala luas.

Artinya, hujan adalah solusi paling efektif dalam mengurangi bencana kebakaran hutan.

Demi mendukung Teknologi Modifikasi Cuaca, BMKG juga terus mengembangkan produk informasi baru. Produk terbaru yang dibuat BMKG berkaitan dengan hal tersebut adalah “Peta Potensi Pertumbuhan Awan Hujan”.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X