Kompas.com - 09/09/2019, 18:37 WIB

Bahkan, tata laksana juga dapat melibatkan psikolog, ilmu budaya, kesehatan masyarakat, ekonomi dan lain-lain.

"Kalau kusta sudah tipe MB, biasanya terjadi juga komplikasi ke bagian organ lain. Jadinya, pengobatannya itu harus dilakukan berkolaborasi atau berkoordinasi antar disiplin ilmu kedokteran yang terkait," ujar dr. Dini.

Baca juga: Mengenal Tipe Kusta pada Tubuh dan Karakteristiknya

Misalnya, jika seorang penderita kusta mengalami gangguan saraf karena penyakitnya, maka dokter kulit akan bekerjasama dengan dokter saraf dalam melangsungkan penyembuhan.

Sementara itu, jika yang terkena dampak kusta adalah organ mata, maka kerja sama dilakukan antara dokter mata dan kulit khusus kusta.

Dokter Dini berkata bahwa hal yang paling ditakutkan dari penyakit kusta adalah kemungkinan terjadinya kecacatan permanen. Dengan berobat teratur, cacat dapat dicegah. Akan tetapi, bila saat berobat awal sudah terjadi cacat, maka cacat akan tetap ada walaupun sudah sembuh.

Bakteri yang ada pada penderita juga akan mati saat kusta dinyatakan sembuh, tetapi penderita bisa kembali mengalami gejala kusta jika terinfeksi bakteri baru.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.