Volume Runtuhan Gunung Anak Krakatau Desember 2018 Kecil, tapi Merusak

Kompas.com - 05/09/2019, 09:55 WIB
Foto udara letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 17.22 Wib dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut). ANTARA FOTO/BISNIS INDONESIA/NURUL HIDAYATFoto udara letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 17.22 Wib dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.500 meter di atas puncak (sekitar 1.838 meter di atas permukaan laut).

KOMPAS.com - Skala kerusakan yang diakibatkan oleh tsunami yang berasal dari gunung berapi yang longsor ke laut dipandang terlalu remeh.

Itulah kesimpulan analisis terbaru terhadap foto-foto satelit Anak Krakatau yang memperlihatkan keadaan pasca longsornya lereng pada bulan Desember tahun lalu.

Volume materi yang jatuh ke air sebenarnya relatif kecil, tetapi gelombang yang ditimbulkannya menghancurkan wilayah sekitar Selat Sunda, dengan tingkat kerusakan sama dengan skala yang kejadiannya lebih besar.

Lebih dari 400 orang meninggal dalam bencana tanggal 22 Desember 2018 sementara 7.000 orang lainnya terluka dan hampir 47.000 orang mengungsi dari rumah mereka.

Baca juga: Tubuh Gunung Anak Krakatau Hilang Lebih dari Setengah, Ini Dampaknya

Dr. Rebecca Williams dari Hull University, Inggris dan rekan-rekannya mengkaji foto-foto citra satelit yang diambil sebelum, pada saat dan setelah kegiatan gunung berapi Anak Krakatau yang memicu longsornya lereng.

Data radar ini penting untuk analisis karena teknik penginderaan jarak jauh dapat mengetahui permukaan daratan dalam keadaan gelap, tertutup awan, atau tertutup abu letusan gunung berapi.

Foto dari satelit Sentinel-1 membantu para peneliti menghitung seberapa besar lereng yang hilang. Bandingkan foto sebelum dan sesudah letusan. Longsor memicu tsunami saat memasuki air. Foto dari satelit Sentinel-1 membantu para peneliti menghitung seberapa besar lereng yang hilang. Bandingkan foto sebelum dan sesudah letusan. Longsor memicu tsunami saat memasuki air.
Foto terpenting dalam kajian Dr. Williams adalah yang didapatkan dari satelit Sentinel-1a milik Uni Eropa yang melewati bagian atas Anak Krakatau delapan jam setelah lereng bagian barat longsor ke laut, dan sebelum puncak gunung setinggi 340 meter tersebut ambruk.

Melalui foto ini, tim Dr. Williams bisa menghitung dengan akurat volume materi yang hilang saat longsor, serta mengkaji tahapan-tahapan kejadian yang kemudian menciptakan gundukan settinggi 100 meter di atas permukaan laut.

Volume daratan yang longsor diperkirakan sekitar 0,1 km3. Ini adalah sepertiga dari volume yang diperkirakan memicu tsunami yang terjadi pada tanggal 22 Desember.
Tahun 2012 para imuwan telah membuat model terkait apa yang akan terjadi jika lereng barat Anak Krakatau longsor. Mereka bahkan telah memperkirakan tinggi dan waktu kedatangan gelombang di garis pantai.

Perkiraan tersebut ternyata cukup akurat. Mereka memperkirakan tsunami menghasilkan massa seberat 0,3 km3.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac 'Aman'

Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac "Aman"

Fenomena
BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

Fenomena
Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Fenomena
Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Oh Begitu
2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

Oh Begitu
Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Oh Begitu
Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Oh Begitu
Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Oh Begitu
Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Fenomena
Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Kita
Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Oh Begitu
Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Kita
Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Oh Begitu
Kenali Gejala Infeksi Menular Seksual, dari Gatal hingga Muncul Tumor

Kenali Gejala Infeksi Menular Seksual, dari Gatal hingga Muncul Tumor

Oh Begitu
Logam Misterius Ditemukan di Gurun yang Terpencil

Logam Misterius Ditemukan di Gurun yang Terpencil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X