Nasib Trastuzumab, Obat Kanker Payudara yang Tak Lagi Ditanggung BPJS

Kompas.com - 31/08/2019, 20:05 WIB
Ilustrasi kanker payudara ShutterstockIlustrasi kanker payudara

KOMPAS.com- Terapi tertarget atau trastuzumab merupakan obat kanker payudara paling efektif di Indonesia. Namun, akses obat ini terkendala oleh biayanya yang mahal.

Sejak 1 April 2018, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan mengakui tidak lagi menjamin obat kanker Trastuzumab. Alasannya karena obat Trastuzumab tidak memiliki dasar indikasi medis untuk digunakan bagi kanker payudara metastatik walaupun dengan restriksi.

Padahal menurut dokter spesialis Onkologi, Dr Farida Briani Sobri Sp B Onk, Trastuzumab telah melalui tahapan empat uji klinis adjuvan berskala besar dan terbukti memberikan dampak positif, yaitu meningkatkan daya hidup penderita kanker payudara kelompok HER2-positif di beberapa negara.

Dia pun mengkritisi publikasi yang menyatakan trastuzumab tidak ada indikasi medisnya.

Baca juga: 25 Persen Kanker Payudara di Indonesia adalah HER2 Positif Ganas

"Padahal jelas-jelas uji klinisnya sudah dalam standar internasional dengan ribuan orang, sementara kita begitu saja menerima penelitian yang hanya 120 orang. Ya enggak seimbanglah perbandingan kajian penelitian yang diakui itu, lagian yang diuji coba di Indonesia itu dengan penderita kanker payudara stadium lanjut (metatastik)," ujarnya.

Farida menjelaskan bahwa dia tidak ingin mengecilkan harapan penderita kanker metatastik. Namun, pada stadium lanjut, obat-obatan kanker pada umumnya memiliki pengaruh kecil. 

Selain jumlah partisipan, studi yang menyebutkan trastuzumab tidak ada indikasi medisnya juga hanya memberikan terapi obat tersebut selama 6-8 bulan, sedangkan studi internasional melaksanakan terapi selama 12 bulan.

Studi juga tidak menjelaskan apakah dosis yang diberikan sudah tepat dan pemberian terapi tidak pernah mengalami keterlambatan.

Baca juga: Halo Prof! Apakah Kanker Payudara Bisa Turun ke Anak Perempuan?

Sebaliknya, keempat uji klinis internasional, di antarany herceptin adjuvant (HERA), National Surgical Adjuvant Breast and Bowel Project (NSABP) B-31, North Central Cancer Treatment Grou[ (NCCTG) N9831, dan terakhir Breast Cancer International Research Group (BCIRG) 006 mencakup lebih dari 13.000 wanita dengan kanker payudara awal (EBC) HER2 positif.

Hasilnya, trastuzumab mengurangi risiko kemunculan kembali penyakit dalam tiga tahun menjadi setengahnya dalam populasi tersebut.

Farida mengatakan, kita harus menerima hasil positif tersebut dalam konteks uji klinis negatif lainnya dengan pemendekan durasi trastuzumab yaitu PHARE dan HORG.

Selain itu, dengan follow up lebih dari 10 tahun, pada uji klinis terkontrol acak besar dengan lebih dari 14.000 pasien, terapi trastuzumab selama satu tahun ditemukan memberikan manfaat sintas bebas penyakit dan tingkat penyintasan yang baik.

Mengutip Chau T Dang MD, direktur medis di Memorial Sloan Kettering Cancer Center Wesstchester's Medical oncology Service, Farida berkata bahwa untuk kebanyakan kanker payudara HER2-positif stadium II hingga III, terapi berbasis trastuzumab/pertuzumab telah menjadi opsi standar di dunia medis internasional.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X