Majelis Hakim Menangkan Gugatan Walhi, Ekosistem Leuser Selamat

Kompas.com - 28/08/2019, 19:07 WIB
Petugas Yayasan Ekosisem Leuser (YEL) mengawasi dan melatih orangutan Sumatra (Pongo abelli) sebelum dilepasliarkan di forest school (sekolah hutan) cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, Selasa (18/6/2019). Sejak 2011 hingga 2019 YEL dan BKSDA Aceh telah melepasliar 121 orangutan di kawasan hutan cagar alam Jantho. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRAPetugas Yayasan Ekosisem Leuser (YEL) mengawasi dan melatih orangutan Sumatra (Pongo abelli) sebelum dilepasliarkan di forest school (sekolah hutan) cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, Selasa (18/6/2019). Sejak 2011 hingga 2019 YEL dan BKSDA Aceh telah melepasliar 121 orangutan di kawasan hutan cagar alam Jantho.

KOMPAS.com - Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (TUN) Banda Aceh mengabulkan seluruh gugatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi) untuk memenangkan Ekosistem Leuser.

Gugatan Walhi dikabulkan karena Gubernur Aceh dinilai menerbitkan izin pinjam pakai kawasan hutan untuk pembangunan PLTA Tampur-I yang di mana ini bukan termasuk kewenangannya.

Diketahui, 4.407 hektar tanah dipinjamkan ke PT Kamirzu, padahal kewenangan Gubernur Aceh hanya untuk luasan di bawah 5 hektar dan bersifat non-komersial.

Selain itu, dikutip dari situs resmi Walhi, areal yang akan dipergunakan sebagai areal pembangunan PLTA terlihat jelas masuk di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). KEL sendiri berdasarkan peruntukkan dan fungsinya merupakan patron inti dalam wilayah kehutanan.

Baca juga: Pembangunan PLTU Celukan Bawang II Ditentang, Ada Apa?

Artinya, KEL merupakan kesatuan kawasan hutan yang memiliki Nilai Konservasi Tinggi (NKT) atau High Value Forest (HVF) yang oleh Dunia telah ditetapkan sebagai satu kesatuan kawasan yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan dunia dari efek perubahan iklim secara global.

“Putusan ini adalah kemenangan rakyat. Terciptanya lingkungan yang lingkungan yang sehat serta pemenuhan hak atas lingkungan adalah bentuk keadilan hukum yang kami peroleh hari ini,” ungkap Direktur Walhi, Muhammad Nur.

M. Nur mengapresiasi putusan ini karena sangat jarang ada pengadilan yang memberi putusan hukum seperti ini, untuk kasus-kasus yang digugat aspek lingkungan hidupnya. M. Nur juga sangat berterima kasih kepada Majelis Hakim yang telah teliti melihat perkara ini.

Majelis Hakim juga menyampaikan Penerbitan Izin di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) bertentangan dengan Pasal 150 UU Pemerintahan Aceh.

Hal lain yang ditemukan adalah objek sengketa, Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) ternyata telah diubah dan direvisi dengan IPPKH baru pada tanggal 29 Januari 2019. Oleh karena itu, perubahan ini juga merupakan salah satu alasan pengabulan gugatan Walhi.

Eksekutif Nasional Walhi, melalui Zenzi Suhadi, Kepala Departemen Advokasi Walhi juga menyampaikan apresiasi atas putusan Majelis Hakim. Menurut dia, ini adalah sebuah langkah maju dalam perlindungan ekosistem Leuser dan rakyat di Aceh.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X