Sikap Pasrah dan Nrimo, Tantangan Besar Hapus Kemiskinan di Jawa

Kompas.com - 22/08/2019, 13:12 WIB
Ilustrasi Kemiskinan KOMPAS/AGUS SUSANTOIlustrasi Kemiskinan

Oleh Wasisto Raharjo Jati


KEMISKINAN masih menjadi masalah besar di Indonesia meskipun pemerintah mampu memangkas angka kemiskinan hingga satu digit untuk pertama kalinya pada 2018.

Sejak September 2018, angka kemiskinan nasional mencapai 9,66% dari total jumlah penduduk Indonesia atau setidaknya ada 25 juta orang masih di bawah garis kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan capaian itu merupakan yang terendah dalam sejarah pengentasan kemiskinan di Indonesia. Pada September 2017, angka kemiskinan masih mencapai 10,12% atau sekitar 26,58 juta orang masih berada di bawah garis kemiskinan.

Melalui program pengentasan kemiskinan, pemerintah telah lama mendistribusikan bantuan tunai dan non-tunai. Bantuan non-tunai ini terdiri dari pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk masyarakat miskin di desa dan kota. Meskipun demikian kemiskinan masih menjadi tantangan tersendiri di beberapa provinsi.

Clifford Geertz, antropolog dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa kemiskinan di Indonesia terkait dengan kecenderungan sosial dan kultural penduduk kelas bawah untuk saling berbagi. Dia menemukan masyarakat miskin di Jawa cenderung membagi aset mereka dengan keluarga dan tetangga dekat meski jumlahnya terbatas. Kebiasaan inilah yang membuat kondisi kemiskinan makin memburuk.

Sejalan dengan temuan Geertz, hasil riset kami menunjukkan bahwa budaya masih berperan penting dalam masalah kemiskinan di Indonesia khususnya Jawa. Kami menemukan bahwa sikap pasrah yang dimiliki sebagian masyarakat Jawa merupakan tantangan terbesar dalam usaha pengentasan kemiskinan.

Riset dan temuan di lapangan

Yogyakarta merupakan provinsi termiskin di Jawa dengan persentase kemiskinan sebesar 11,81%. Angka ini lebih dari angka nasional.

Banten adalah kawasan dengan persentase kemiskinan terendah ke-5 di Indonesia, yaitu sekitar 5,26%. Tapi banyak masyarakat yang tidak bisa mencari pekerjaan setelah musim panen di sana. Tahun lalu, angka pengangguran setelah masa panen mencapai 15,4%, lebih tinggi pada waktu musim panen yang hanya mencapai 13,7%.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X