Kompas.com - 21/08/2019, 18:07 WIB
Ilustrasi HIV ShutterstockIlustrasi HIV

KOMPAS.com – Sebuah vaksin HIV akan segera memasuki uji klinis fase akhir yang melibatkan ribuan orang di delapan negara. Vaksin HIV ini menarget lebih banyak strain HIV dari vaksin-vaksin sebelumnya dan diduga bisa efektif lebih lama.

Dilansir dari Nature, 31 Juli 2019; Susan Buchbinder, seorang epidemiologis di University of California, San Fransisco, yang tergabung dalam tim peneliti, menyebut bahwa vaksin HIV ini akan menjadi gebrakan besar.

Pasalnya, selama ini upaya pencegahan HIV hanya terbatas pada kondom dan obat antiretroviral yang disebut PrEP. Selain sulit diakses di beberapa negara, termasuk Indonesia; PrEP mengharuskan penggunanya meminum pil setiap hari sehingga sulit untuk diikuti dalam jangka waktu yang lama.

Nah, vaksin yang hanya perlu diulang beberapa kali dalam setahun bisa menjadi alternatif yang luar biasa, ujar epidemiologis Jorge Sánchez dari Centre for Technological, Biomedical and Environmental Research in Lima, Peru, yang menjadi salah satu situs uji coba vaksin.

Baca juga: Kali Pertama, Modifikasi Gen Sembuhkan HIV pada Hewan Hidup

Sebelum vaksin kali ini pun, para ahli telah berlomba-lomba mencari vaksin HIV. Secara total, sudah ada lebih dari 100 vaksin HIV yang diuji coba ke manusia dalam tiga dekade terakhir.Namun, mereka terkendala oleh begitu banyaknya ragam strain HIV yang ada di seluruh dunia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu kalaupun ada satu yang menjanjikan, seperti vaksin yang diuji di Thailand, perlindungannya tidak bertahan lama.

Vaksin yang diuji di Thailand tersebut membuat risiko partisipan untuk terkena HIV berkurang hingga 60 persen setelah divaksin. Namun, efek perlindungannya menurun dalam waktu setahun dan dalam 3,5 tahun hanya tersisa 31 persen.

Nah, dalam menciptakan vaksin kali ini, para peneliti menggabungkan materi genetik dari berbagai strain HIV di seluruh dunia menjadi tiga gen HIV sintetis. Aspek inilah yang membuat uji coba vaksin dijuluki proyek “Mosaico”. Ketiga gen HIV sintetis dimasukkan ke dalam virus pilek biasa dan disuntikkan ke tubuh pasien.

Untuk membantu tubuh menciptakan antibodi terhadap HIV, tim peneliti juga menambahkan dua protein sintetis yang dibuat berdasarkan protein hasil produksi strain HIV yang umum di Afrika, Amerika, Eropa dan Australasia ke dua dosis vaksin terakhir.

Baca juga: Terobosan Besar, Terapi Baru Mampu Bunuh Virus HIV yang Tersembunyi

Uji Klinis

Dalam percobaan kecil sebelumnya, vaksin mosaik ini terbukti mampu memicu respons imunitas tubuh terhadap HIV. Namun, apakah vaksin benar-benar bisa melindungi penggunannya dari infeksi HIV masih menjadi pertanyaan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Sumber Nature
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

Kita
Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X