Konflik Papua, Tanda Adanya Krisis Akulturasi Serius

Kompas.com - 20/08/2019, 17:11 WIB
Sejumlah anggota Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim menyisir Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019). Sebanyak 43 orang dibawa oleh pihak kepolisian untuk diminta keterangannya tentang temuan pembuangan bendera Merah Putih di depan asrama itu pada Jumat (16/8/2019). ANTARA FOTO/DIDIK SUHARTONOSejumlah anggota Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim menyisir Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019). Sebanyak 43 orang dibawa oleh pihak kepolisian untuk diminta keterangannya tentang temuan pembuangan bendera Merah Putih di depan asrama itu pada Jumat (16/8/2019).

KOMPAS.com - Kerusuhan pecah di Manokwari, Papua, Senin (19/8/2019) dan memicu pembakaran gedung DPRD Papua Barat.

Kerusuhan ini sebagai buntut dari aksi protes massa terhadap dugaan persekusi dan rasisme pada mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, Jawa Timur.

Menurut Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. PM Laksono, M.A konflik yang melibatkan mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya termasuk rasisme.

"Ini perkara rasisme," ujar Laksono ditemui di kantor Laboratorium Antropologi untuk Riset dan Aksi (LAURA), Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Selasa (20/8/2019).

Baca juga: Kami Bukan Monyet, Ahli Jelaskan Alasan Panggilan Hewan Itu Menghina

Konflik di Papua yang baru saja terjadi merupakan konflik yang sangat kompleks dan tidak sederhana.

Bahkan, Laksono mengatakan konflik ini sudah mengakar dan ada banyak PR yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya.

"Ada krisis akulturasi serius dan kita butuh kerja keras sepanjang hayat," ujar Laksono.

Memahami krisis akulturasi

Berbicara ke belakang, Indonesia dulu tidak memiliki preseden. Maksudnya, di zaman dahulu tidak ada Indonesia dan Indonesia merupakan konstruksi baru.

Penduduk nusantara hidup di bawah pemerintahan Kerajaan dan sebagian besar lainnya hidup di komunitas kesuku-bangsaan tanpa mengenal struktur kebangsaan.

"Ketika Indonesia merdeka, kedua komunitas secara serentak menghadapi dunia baru dengan modalitas dan pengalaman hidup berbeda. Dari yang awalnya tunduk pada raja jadi menghormati Presiden," ujar Laksono.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X