Kompas.com - 17/08/2019, 07:39 WIB

KOMPAS.com  Tanaman Bajakah yang diklaim bisa menyembuhkan kanker menjadi perbincangan dalam sepekan terakhir.

Hal ini diketahui setelah dua siswa asal SMA Negeri Palangka Raya meraih medali emas dalam World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan.

Namun, perlu sejumlah fase dan tahapan untuk memastikan bahwa bajakah memang bisa menyembuhkan kanker pada manusia.

Beberapa ahli mengingatkan agar tak terlalu dini menyimpulkan bahwa bajakah efektif sebagai obat kanker.

Dokter Walta Gautama Sp.B(K)Onk yang praktik di RS Dharmais, Jakarta, mengimbau masyarakat untuk tak melakukan penanganan di luar medis termasuk pengobatan herbal yang membuatnya tak menempuh pengobatan secara medis.

Baca juga: 5 Tanggapan Para Pakar atas Kontroversi Bajakah sebagai Obat Kanker

Ia mengingatkan, penanganan kanker tak bisa ditunda.

“Orang sakit kanker beda dengan orang sakit jantung ataupun penyakit lain. Orang sakit kanker kalau stadium tambah, angka harapan sembuh makin kecil, pengobatan makin kompleks,” kata Walta, saat dihubungi, Jumat (16/8/2019).

Pengobatan kanker, lanjut dia, sebaiknya dilakukan secara medis dan disesuaikan dengan jenis kanker yang diderita.

Walta menjelaskan, ada 2 jenis kanker yaitu padat dan cair/darah.

Penanganan keduanya juga berbeda. Kanker padat biasanya akan dilakukan pembedahan jika kondisi pasien memungkinkan.

“Kanker ada 2, ada padat dan cair (darah). Kalau kanker padat atau solid terapi utamanya selama memungkinkan dilakukan bedah, ya bedah!” ujar dia.

Sementara, untuk kanker darah, penanganan yang biasa dilakukan melalui aliran darah dan tak perlu pembedahan.

Baca juga: Keampuhan Bajakah Mengobati Kanker Dinilai Masih Terlalu Dini

Adapun, penanganan lainnya seperti radiasi, kemoterapi, hormonal, dan lain-lain ditentukan oleh banyak faktor.

Oleh karena itu, Walta mengatakan, masyarakat agar tak mudah percaya dengan iming-iming obat herbal yang diklaim bisa menyembuhkan kanker.

Penggunaan obat herbal sebagai obat kanker harus melalui serangkaian uji klinis dan tahapan.

Tahapan itu di antaranya uji laborat, percobaan binatang, dan manusia.

“Setelah itu baru lanjut ke manusia, aman enggak untuk manusia. Dilihat lagi itu (pengamatan organ) semua. Enggak bisa main sembarangan," kata Walta.

Ia menambahkan, dalam proses uji klinis, ada ketentuan tentang jumlah orang yang mengalami kesembuhan.

“Misal dari 10 orang ada 3 yang sembuh. Pertanyaannya kalau 100 orang berarti harus 30 orang. Kalau 1000 orang berati harus 300 orang. Tercapai enggak itu? Nah kalau enggak, dari 100 orang baru 6, berarti enggak boleh. Maka dianggap 6 orang itu bernasib baik karna statistiknya enggak sama,” jelas Walta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harta Karun Emas Permata Ditemukan di Kapal Karam Berusia 366 Tahun

Harta Karun Emas Permata Ditemukan di Kapal Karam Berusia 366 Tahun

Fenomena
Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia, Dokter: Bila Ada 1 Kasus Harus Dinyatakan Kejadian Luar Biasa

Cacar Monyet Belum Ada di Indonesia, Dokter: Bila Ada 1 Kasus Harus Dinyatakan Kejadian Luar Biasa

Kita
Apa Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan?

Apa Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan?

Oh Begitu
Astronom Cari Meteorit Antarbintang Menggunakan Magnet Besar, Untuk Apa?

Astronom Cari Meteorit Antarbintang Menggunakan Magnet Besar, Untuk Apa?

Fenomena
BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Berikut

BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Berikut

Fenomena
Badai Matahari Dilaporkan Hantam Medan Magnet Bumi, Apa Dampaknya?

Badai Matahari Dilaporkan Hantam Medan Magnet Bumi, Apa Dampaknya?

Fenomena
Memperkuat Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Ini Komitmen BMKG

Memperkuat Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional, Ini Komitmen BMKG

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

[POPULER SAINS] Perseverance Mars NASA Bidik Puing Pendaratannya | Puncak Hujan Meteor Perseid | Video Viral Anak SD Rambutnya Dipotong Guru

Oh Begitu
Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Penyakit Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri, Ini Pengobatan hingga Pencegahan Penularannya

Kita
Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Darah Berwarna Merah tapi Kenapa Pembuluh Darah Berwarna Biru? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Benarkah Cacar Monyet Termasuk Penyakit Infeksi Menular Seksual? Dokter Jelaskan

Kita
Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Jumlah Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Desak Revisi PP Tembakau

Kita
Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Kenapa Kucing Selalu Tidur dan Tampak Malas? Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Kemenkes Pastikan Subvarian Omicron BA.4.6 Belum Ada di Indonesia

Oh Begitu
Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter di Selatan Jawa pada 10-11 Agustus

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.