Para Ahli di Dalam dan Luar Negeri Sepakat, Polusi Udara Mematikan

Kompas.com - 31/07/2019, 12:23 WIB
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

KOMPAS.com - Kotornya udara Jakarta menjadi topik yang ramai dibicarakan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut pemberitaan Kompas.com edisi (11/7/2019), Dinas Kesehatan DKI Jakarta sudah mencatat enam penyakit yang disebabkan polusi udara.

Di antaranya, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma (gangguan saluran pernapasan), pneumonia atau paru-paru basah, kanker, stroke, dan kencing manis.

"Pertama, lingkungan atau polusi udara 60 persen mempengaruhi kualitas derajat kesehatan seseorang. Sisanya adalah, perilaku tidak sehat dan layanan kesehatan yang buruk yang menjadi faktornya," ujar Widyastuti saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan DKI, Jalan Kesehatan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2019).

Baca juga: Soal Polusi Udara Jakarta Buruk Saat Malam, Begini Kata BMKG

Seperti dikatakan Widyastuti, polusi udara menyumbang lebih dari separuh porsi penyebab penyakit terkait saluran pernapasan.

Hal ini sejalan dengan laporan Greenpeace pada 18 Juli 2018, di mana sumber polutan termasuk asap kendaraan, emisi, cerobong asap, sisa pembakaran rumah, dan lain-lain, tak hanya menimbulkan penyakit tapi juga disebut pembunuh senyap.

"PLTU di sekitar Kota Jakarta adalah pembunuh senyap yang menyebabkan kematian dini sekitar 5.260 jiwa rakyat Indonesia per tahun. Angka tersebut diperkirakan akan melonjak menjadi 10.680 jiwa per tahun seiring dengan rencana pembangunan PLTU baru di sekitar Jakarta," ungkap Bondan Andriyanu, Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia kepada Kompas.com.

Kematian akibat polusi udara umumnya terjadi di negara miskin dan berkembang. Bahkan riset menemukan, polusi menyebabkan lebih banyak kematian dibanding masalah kesehatan lain.

Dari total 9 juta kematian, sebanyak 6,5 juta kematian diakibatkan oleh pencemaran udara. Lalu, hampir setengah dari total angka itu berasal dari dua negara dengan penduduk terbanyak, yakni India dan China.

Data ini dipaparkan dalam The Lancet medical journal, yang dilansir kantor berita AFP.

Negara dengan pembangunan industri yang cepat seperti India, Pakistan, China, Banglades, Madagaskar, dan Kenya, tercatat memiliki akumulasi dampak polusi hingga satu orang dari setiap empat kematian.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X