Kompas.com - 21/07/2019, 13:06 WIB
Ilustrasi tsunami ShutterstockIlustrasi tsunami

KOMPAS.com – Viral informasipotensi tsunami di pantai selatan Jawa membuat resah masyarakat Indonesia. Pesan yang sebetulnya sudah berkali-kali viral tersebut didasarkan pada hasil kajian tsunami yang dipaparkan oleh BPPT dalam agenda Table Top Exercise (TTX).

Menurut kajian, wilayah pantai selatan Jawa-Bali berpotensi mengalami gempa megathrust dengan magnitudo 8,8 yang bila benar-benar tercapai. Gempa megathrust adalah gempa besar yang bersumber dari aktivitas tektonik zona subduksi.

Bila gempa megathrust itu benar-benar seperti yang diperkirakan, maka bisa menyebabkan gelombang tsunami setinggi 20 meter.

Sebetulnya, bagaimana perhitungan potensi tsunami dilakukan oleh para ahli? Bisa dipercaya atau tidak?

Baca juga: Viral Potensi Tsunami Selatan Jawa, BMKG Sebut Indonesia Memang Rawan

Kompas.com menghubungi Eko Yulianto yang merupakan pelacak jejak tsunami purba dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk mendapatkan jawabannya via telepon pada Sabtu (20/7/2019).

Dia menjelaskan bahwa para peneliti sebetulnya selalu ingin menemukan suatu cara untuk mengetahui ketinggian tsunami dari bukti yang ditemukan. Mereka pun menggunakan segala cara, mulai dari eksperimen, teori dan pemodelan.

Untuk pemodelan, ada dua jenis yakni backward modelling dan forward modelling.

Backward modelling atau permodelan mundur adalah menentukan karakter tsunami dari data hasil yang ada. Contohnya adalah mencari tahu korelasi antara ketebalan endapan tsunami dengan tinggi tsunami.

Sayangnya hingga saat ini, para peneliti belum bisa menemukan formulasinya karena secara umum saja, tebal-tipisnya endapan tsunami tergantung pada ketersediaan materi di laut maupun pantai yang bisa dibawa dan diendapkan di darat. Dengan demikian kalaupun magnitudo atau ketinggian gelombang tsunaminya sama, hasil endapannya bisa berubah-ubah.

Baca juga: Viral Potensi Tsunami Laut Selatan Jawa, Ini Fakta yang Harus Anda Ketahui

Sebaliknya, forward modelling atau permodelan maju adalah ketika para peneliti memperkirakan berapa ketinggian tsunami yang bisa dipicu oleh suatu potensi gempa. Dengan kata lain, pemodelan ini didasarkan pada karakteristik sumber utamanya untuk menentukan besaran tsunaminya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Kita
8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

Kita
Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X