Kompas.com - 19/07/2019, 12:50 WIB
Fotocalon anggotaa DPD RI Evi Apita Maya yang dipersoalkan oleh saksi Farouk Muhammad yang mengangap Evi melakukan pemalsuan dokumen karena fotonya jadi cantik. Evi sendiri lolos ke Senayan lantaran foto cantiknya tersebut. Dok. IstimewaFotocalon anggotaa DPD RI Evi Apita Maya yang dipersoalkan oleh saksi Farouk Muhammad yang mengangap Evi melakukan pemalsuan dokumen karena fotonya jadi cantik. Evi sendiri lolos ke Senayan lantaran foto cantiknya tersebut.

KOMPAS.com – Evi Apita Maya belakangan menjadi perhatian publik lantaran digugat oleh lawan politiknya, Farouk Muhammad, karena dianggap meng-edit foto kampanyenya “di luar batas kewajaran” sehingga menjadi cantik dan menarik.

Namun, benarkah foto cantik bisa mempengaruhi elektabilitas seseorang sampai memenangkan pemilihan legislatif (pileg)?

Artikel Kompas.com, Senin (15/7/2019) yang berjudul "Kasus Foto Cantik, Calon Anggota DPD Evi Apita Maya Yakin Menang di MK" melaporkan bahwa memang ada warga yang memilih Evi hanya karena foto.

Seorang mahasiswa bernama Syukron (21), misalnya, mengaku telah memilih foto Evi karena terlihat muda dan cantik. Lalu, ada Furqon (26) yang berkata bahwa dia tidak tahu harus memilih yang mana, sehingga hanya memilih berdasarkan foto.

Pengakuan mereka sejalan dengan berbagai hasil penelitian yang menemukan bahwa penampilan seorang kandidat memang bisa mempengaruhi elektabilitasnya.

Baca juga: Kenapa Sih Kita Mudah Marah kalau Membahas Politik?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wajah memang berpengaruh

Dilansir dari The Guardian, 17 Juni 2012, sekelompok peneliti dari Unviersity of California pernah melaksanakan sebuah eksperimen menarik, di mana beberapa kelompok orang diminta untuk memeriksa brosur mengenai dua politikus yang pura-puranya sedang mencalonkan diri di pemilihan kongres kota sebelah.

Setiap brosur berisi data dan foto seorang kandidat, tetapi foto tersebut telah dimodifikasi oleh para peneliti untuk membuat kandidat terlihat lebih kompeten atau kurang kompeten secara acak.

Meskipun para partisipan mengaku tidak memedulikan penampilan kandidat, penampilan yang lebih kompeten ternyata mendapatkan 13 persen suara lebih banyak daripada pesaingnya.

Para peneliti lantas menulis bahwa para partisipan secara sadar memperhatikan penampakan kandidat, tetapi kemudian merasa dapat mengabaikannya dan membuat keputusan rasional hanya berdasarkan data lainnya. Akan tetapi, nyatanya tidak demikian.

Hal yang sama juga ditemukan oleh para peneliti Princeton University yang mencoba untuk mensimulasikan eksperimen di atas, tetapi dengan kandidat benaran.

Halaman:


Sumber The Guardian,
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.