Mengapa Lengan Kita Lurus Saat Jalan dan Bengkok Saat Lari?

Kompas.com - 10/07/2019, 17:05 WIB
Lalu Muhammad Zohri saat berlaga di ajang Asian Games 2018 laluANTARA Lalu Muhammad Zohri saat berlaga di ajang Asian Games 2018 lalu

KOMPAS.com – Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa lengan kita lurus saat berjalan, tetapi bengkok saat berlari?

Pertanyaan itu berbulan-bulan terngiang di benak Andrew Yegian, seorang kandidat doktoral di Harvard University, sebelum akhirnya dia melakukan sebuah eksperimen untuk menemukan jawabannya.

Bersama dengan timnya, Yegian mengumpulkan delapan relawan dengan kebiasaan lari yang beragam, mulai dari orang yang hanya berlari beberapa kali seminggu hingga pelari maraton.

Para relawan diminta untuk berjalan dan berlari di treadmill sambil mengenakan masker oksigen dengan dua cara, lengan lurus dan lengan bengkok. Ini untuk mengukur berapa banyak energi yang mereka butuhkan untuk berlari dan berjalan dengan kedua posisi tangan.

Baca juga: Naik Eskalator, Efisiennya Berdiri, Jalan, atau Lari?

Rupanya, berjalan dengan lengan bengkok menghabiskan lebih banyak oksigen daripada berjalan dengan lengan lurus. Perbedaannya bahkan mencapai 712 mililiter per menit atau sekitar 11 persen.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa berjalan dengan lengan lurus memang lebih efisien daripada berjalan dengan lengan bengkok, sehingga sangat alami bila kita melakukannya demikian.

Namun, jawaban untuk posisi lengan saat berlari tidak begitu jelas. Yegian dan tim menduga bahwa berlari dengan lengan bengkok lebih efisien daripada lengan lurus, tetapi nyatanya biaya oksigen yang dibutuhkan oleh cara lari keduanya sama saja.

“Membengkokkan lengan mengurangi energi yang Anda butuhkan di area bahu, tetapi meningkatkan energi yang dibutuhkan pada area siku,” ujar Yegian.

Baca juga: Bagaimana Cara Jalan Kaki untuk Turunkan Berat Badan?

Meski para peneliti akhirnya memutuskan bahwa mereka tidak tahu mengapa kita berlari dengan lengan bengkok, Yegian yakin bahwa posisi alami ini ada alasannya. Dia menduga, berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, bahwa lengan yang bengkok mungkin membantu untuk menstabilkan kepala ketika berlari.

Lagipula, para peneliti hanya meneliti berdasarkan satu kecepatan lari saja. Mungkin energi yang dihabiskan untuk berlari dengan lengan bengkok atau lurus berbeda jika para relawan diminta berlari secepat mungkin.

Yegian pun berkata bahwa dia berencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan subyek ini.

Hasil penelitian Yegian dan kolega telah dipublikasikan dalam Journal of Experimental Biology.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X