Sabuk Rumput Laut Raksasa Membentang dari Afrika Barat sampai Meksiko

Kompas.com - 08/07/2019, 13:33 WIB
Rumput laut Sargassum menutupi pantai dekat Tulum, negara bagian Quintana Roo, Meskiko, 24 Mei 2019 DANIEL SLIM/AFPRumput laut Sargassum menutupi pantai dekat Tulum, negara bagian Quintana Roo, Meskiko, 24 Mei 2019

KOMPAS.com - Keberadaan rumput laut di Samudera Atlantik pertama diketahui penjelajah Christopher Columbus pada abad ke-15. Kini, rumput laut ditemukan telah mengepung lautan, membentang dari Afrika Barat sampai teluk Meksiko.

Fenomena tumbuhnya rumput laut secara masif ini dinamai Great Atlantic Sargassum Belt. Peneliti University of South Florida Mengqiu Wang menyebut bentang rumput laut ini panjangnya sekitar 8.850 kilometer. Fenomena ini dipengaruhi faktor alam dan manusia.

"Kami menganalisis 20 tahun rekaman satelilt," kata Wang seperti dilansir dari Live Science.

Wang menganalisis hamparan rumput laut ini pertama muncul pada 2011. Pertumbuhannya yang masif diperkirakan terjadi pada 2009, ketika muara Sungai Amazon mengalirkan kandungan nutrisi yang sangat tinggi dan tak biasa ke Samudera Atlantik. Tingginya nutrisi ini berasal dari deforestasi Amazon dan penggunaan pupuk di lembah.

Baca juga: Indah tetapi Mematikan, Wujud Asli Air Mata Biru di Taiwan Terungkap

Kesuburan Samudera Atlantik ini ditambah dengan upwelling atau pembalikan massa air di pesisir barat Afrika pada musim dingin 2010. Upwelling adalah fenomena di mana air laut yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar bergerak dari dasar laut ke permukaan akibat pergerakan angin di atasnya.

Ini membuat permukaan Samudera Atlantik menghangat hingga membuat rumput laut tumbuh subur pada musim panas 2011.

Faktor serupa kembali terjadi pada 2014, 2015, dan 2017. Pertumbuhan paling masif terjadi pada 2018, ketika Great Atlantic Sargassum Belt mengembang hingga mencapai 20 juta metrik ton.

Dalam kondisi normal, rumput laut menjadi habitat bagi hewan laut. Rumput laut dibutuhkan ikan dan burung. Begitu pula lumba-lumba dan penyu yang diuntungkan dengan rumput laut yang mengambang. Namun, lapisan rumput laut yang terlalu tebal bisa menjadi masalah bagi hewan-hewan laut.

Baca juga: Cara Ilmuwan Rangsang Pertumbuhan Pembuluh Darah dengan Rumput Laut

"Ketika rumput laut membusuk, itu menyerap oksigen. Ini membuat kandungan oksigen rendah dan tak baik bagi ekosistem laut," ujar Wang.

Terumbu karang dan seagrass atau lamun bakal terdampak ketika kandungan air berubah. Begitu juga dengan hewan lain yang jadi sulit bergerak.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X