PBB: Bencana Akibat Krisis Iklim Terjadi Setiap Pekan

Kompas.com - 08/07/2019, 12:19 WIB
Citra satelit pada 1 Mei 2019 memperlihatkan Topan Fani menuju Teluk Bengal, India.AFP/HO/NOAA Citra satelit pada 1 Mei 2019 memperlihatkan Topan Fani menuju Teluk Bengal, India.

KOMPAS.com - Bencana akibat krisis iklim kini terjadi setidaknya sepekan sekali. Negara-negara berkembang diimbau akan dampaknya yang medalam.

Topan Idan dan Kenneth di Mozambik, serta kekeringan di India memang menjadi perhatian dunia. Namun di berbagai belahan dunia lainnya, bencana dengan skala lebih kecil terjadi setiap harinya, mematikan dan menyengsarakan manusia.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB) urusan bencana mengatakan bahwa rentetan bencana ini berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan.

"Ini bukan soal masa depan, ini tentang saat ini," kata Mizutori dilansir dari The Guardian.

Mizutori menilai bahwa adaptasi terhadap bencana akibat krisis iklim tak bisa lagi dilihat sebagai masalah jangka panjang. Efeknya yang sudah mulai dirasakan, membutuhkan antisipasi cepat.

Baca juga: Ahli PBB Sebut Perubahan Iklim Bikin Kemiskinan Bertambah

Asumsinya, biaya yang dibutuhkan untuk menangani bencana akibat krisis iklim sebesar 520 miliar dollar AS atau sekitar Rp 7.350 miliar per tahun, sedangkan biaya untuk membangun infrastruktur tahan dampak pemanasan global hanya sekitar tiga persen atau 2,7 miliar dollar AS (Rp 38 triliun) totalnya selama 20 tahun.

"Ini bukan nilai yang besar, tapi peran investor kurang. Ketahanan perlu menjadi komoditas yang harus dibayar orang," ujar Mizutori.

Artinya, manusia perlu menerapkan standar baru untuk infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud meliputi rumah, jalan, rel, pabrik, pembangkit listrik, dan pasokan air. Dengan demikian, infrastruktur yang ada akan tak akan terlalu rapuh terhadap efek banjir, kekeringan, badai, dan cuaca ekstrem.

Hingga kini, mitigasi bencana terkait perubahan iklim hanya jadi jargon untuk mengurang emisi gas rumah kaca. Padahal, kita juga perlu fokus pada dampaknya dan cara untuk beradaptasi secepat mungkin.

Baca juga: Bumi Masuki Rezim Iklim Baru, Ini Artinya bagi Kita

Adaptasi terhadap perubahan iklim tak membuat kita lupa akan penanganan akar masalah. Namun, adaptasi perlu diterapkan sebagai solusi jangka panjang.

"Kita bicara soal darurat perubahan iklim, namun jika kita tidak bisa menghadapinya, kita tidak akan selamat," kata Mizutori.

Banyak dari bencana berskala kecil sebenarnya bisa dihindari jika masyarakat menerima imbauan dini. Bencana ini bisa dihadapi dengan infrastruktur pengendali banjir dan cadangan air yang sebenarnya bisa dibangun pemerintah.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X